<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166</id><updated>2012-02-16T02:53:28.959-08:00</updated><category term='secuil aksi potret sang antropolog muda saat riset'/><category term='kritik terhadap kebijakan diskriminatif dalam pelayanan hak-hak sipil'/><category term='mengkader intelektual kampus berkesenian demi kemajuan budaya bangsa'/><category term='2001. STSI Press. Bandung'/><category term='tapi tanyakan  yang diyakininya'/><category term='disarikan dari buah pemikiran Pangeran Jatikusumah'/><category term='Sora &quot;sadagori&quot; Rahayat Tatar Sunda'/><category term='disampaikan dalam pembekalan Materi Budaya'/><category term='dedicated by Adiv and Chelly in sunlight'/><category term='masihkah ada kepedulian diantara kita memaknai dan menggunakan khasanah budaya bangsa sebagai identitas kita'/><category term='sebuah refleksi di bulan oktober'/><category term='hal.60-62'/><category term='untuk semua manusia yang punya hati dan perasaan'/><category term='getering batin nu sumerep na acining pikir lan rasa'/><category term='simbol kodrati alam yang akan terus saling mengisi'/><category term='Ma&apos;mur Danasasmita'/><category term='Jangan tanyakan apa agamamu'/><category term='Jangan hancurkan senyum mereka dengan Egoisme Keagamaan'/><category term='dikutip dari Wacana Bahasa dan Sastra Sunda'/><category term='mengungkap dilema di balik fenomena Budaya Adat Sunda'/><category term='kupasan awal tentang apa dan bagaimana Sunda Wiwitan'/><category term='sepenggal cacatan perjuangan untuk Indonesiaku'/><category term='Pada Cerminmu akan nampak Seribu Raut Mukamu'/><category term='kritik terhadap orientasi dan realita pembangunan bangsa'/><category term='wujudkanlah mimpi-mimpi indah menjadi kenyataan'/><category term='bukan sekedar makanan raga tapi jiwa dan Simbol Identitas Spiritual Budaya'/><category term='guligah katresnan sanajan tacan karuhan'/><category term='kecanggihan abad ini adalah bagi mereka yang mampu berpikir dalam dan meluas untuk umat manusia'/><category term='Istrenan Duta Sawala ku Baresan Olot Tatar Sunda'/><category term='ritual adat sebagai sarana komunikasi dengan alam'/><category term='atas nama cinta yang menatap tak pernah menutup'/><category term='refleksi diri antara aku dan yang Ada dalam Aku'/><category term='kegelisahan empirik atas ketidakberdayaan generasi muda dalam menjaga budaya bangsa'/><category term='inilah  aku dan hidupku'/><category term='secuil darma untuk bangsaku tercinta'/><category term='Sulitnya untuk mengajak orang saling pengertian'/><category term='tradisi ini sebelum adanya prosesi Damar Sewu'/><title type='text'>SUNDA, NUSANTARA &amp; PAJAJARAN</title><subtitle type='html'>"...Sebuah untaian refleksi kehidupan dari palung hati yang tak berdasar dari Sang Pengelana Buana Budaya dalam menyikapi, menggali, memahami, mengkritisi perkembangan kebudayaan Bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika demi kemajuan Bangsa Indonesia.."</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-6388520098537070611</id><published>2011-03-24T00:59:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T01:09:14.456-07:00</updated><title type='text'>PRESS REALEASE SAWALA LUHUNG RAHAYAT TATAR SUNDA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NGAHUDANG SABILULUNGAN, NGAJAGA KAUTUHAN NKRI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Gempungan Rahayat Jawa barat dalam menata ulang kebersamaan dan keberagaman spiritualitas demi tegaknya ideologi Pancasila dan UUD 1945 dalam kerangka NKRI yang Bhinneka Tunggal Ika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jawa Barat adalah bagian dari NKRI yang memiliki filosofi hidup Silih Asih-Silih Asah-Silih Asuh. Masyarakat Jawa Barat yang notabene dominan masyarakat suku Sunda dengan budayanya yang santun dan beradab sangat kental dengan nuansa kehidupan yang HARMONIS dalam sistem sosial dan budaya perilaku masyarakatnya, yang ditopang oleh masih adanya kehidupan masyarakat-masyarakat adat yang kukuh dalam mempertahankan, mengembangkan dan menjaga warisan tradisi luhur Kasundaan. Sebagai bagian NKRI, masyarakat Jabar akhir-akhir ini mengalami dampak dinamika politik yang bernuansa pada adanya realita potensi "konflik vertikal dan horizontal", terutama konflik dalam perbedaan persepsi dan pemahaman dalam perbedaan faham keagamaan dan keragaman dana keyakinan. Sebagian besar masyarakat komunitas yang terdiskreditkan atau terdiskriminasi dengan cara-cara anarkis dan intimidasi serta agitasi oleh kelompok fundamentalis juga oleh adanya kebijakan Pemda Jabar yang memperkeruh suasana, dan dibantu aparat militer baik secara langsung mapun tidak langsung, hidup dan berkembang di Jawa Barat dan Banten. Konflik disebabkan oleh perbedaan persepsi dengan tindakan kekerasan dan intimidasi politik dari kebijakan Pemda Jabar tersebut akhirnya langsung atau tidak langsung berdampak pada ketidaktentraman kehidupan yang damai di masyarakat Jawa barat. Alih-alih aparat militer dan Gubernur jabar serta aparat pemda seharusnya menjadi pelindung masyarakat tanpa melihat latar belakang golongan atayu kelompok, malah menjadi pemicu kondisi masyarakat Jawa Barat menjadi penuh rasa ketidaknyamanan, serba khawatir, serba curiga dan tidak damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicu yang dimaksud adalah adanya Pergub Jabar No 12 tahun 2011 tentang pelarangan Ahmadiyah yang ditengarai adalah sebagai "kecerobohan Gubernur Jabar dan sikap kesewenang-wenangan yang latah dan INSKONTITUSIONAL dengan Ideologi Pancasila dan UUD 1945". Kondisi kongkrit lain yang sangat merugikan bahkan "menampar citra kultur masyarakat Jawa Barat yang memiliki budaya luhur Sunda dan menjungjung tinggi Simbol Prabu Siliwangi, tetapi simbol Siliwangi telah dicoreng oleh Kodam III Siliwangi (Pangdam III Siliwangi Moeldoko) yang langsung atau tidak langsung mendukung dan membantu sosialisasi Pergub No 12 tahun 2011 tersebut. Indikasi ini menyiratkan bahwa TNI Siliwangi sudah tidak berpihak pada Ideologi Pancasila yang dikukuhkan dalam Sapta marga TNI. Dan Kodam Siliwangi telah ingkar dari nilai Luhur Siliwangi yang mengemban amanat Silih Asih-Silih Asah dan Silih Asuh untuk membela rakyat (lemah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan komponen masyarakat Jawa Barat yang peduli akan ke-SABILULUNGAN atau keharmonisan dalam keragaman budaya, keyakinan, golongan, etnis dan status sosial lainnya, terutama dalam hal ini kebersamaan dalam menerima perbedaan keyakinan dan persepsi pemahaman keyakinan yang berbeda selama itu semua ada dalam kerangka menjunjung tinggi Ideologi Negara Pancasila dan UUD 1945. Artinya polemik Pergub Jabar No 12 tahun 2011 dan sikap Kodam III Siliwangi yang terlalu ikut campur tangan terlalu jauh dalam Hak Asasi Manusia dalam berkeyakinan harus DISIKAPI oleh semua komponen masyarakat dengan cara NGAGEUINGKEUN para petinggi elite Jabar tersebut dengan pernyataan sikap yang arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Sikap :&lt;br /&gt;1. Mempertahankan jati diri bangsa yang teguh dalam mengimplementasikan ideologi   &lt;br /&gt;   Pancasila dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;2. Pergub Jabar No 12 tahun 2011 dianggap sebagai akselerator ketidaktentraman &lt;br /&gt;   kehidupan masyarakat di Jawa Barat dan Banten (dimana terdapat kebudayaan dominan&lt;br /&gt;   Sunda)&lt;br /&gt;3. Langkah Kodam III Siliwangi atas keikutsertaanya pada Pergub dimaksud di atas &lt;br /&gt;   dianggap sebagai langkah MUNDUR dalam kehidupan berbangsa dan bernegara&lt;br /&gt;4. Mengusung dan memperteguh Nilai-nilai Luhur budaya Sunda dan "mengecam keras" &lt;br /&gt;   Pergub no 12 tahun 2011 dan sikap Pangdam III Siliwangi, bukan bermaksud &lt;br /&gt;   mencampuri perbedaan persepsi yang berkembang di dalam perbedaan paham keyakinan &lt;br /&gt;   di masyarakat, tetapi justru ingin mengingatkan semua pihak yang berselisih agar &lt;br /&gt;   proporsional menempatkan persoalan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TNI harus berdiri diatas semua kalangan, golongan dan warga negara baik lintas &lt;br /&gt;   agama/keyakinan, suku, dan sebagainya sejauh berorientasi pada Ideologi Pancasila&lt;br /&gt;   dan spirit Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka mempertahankan NKRI&lt;br /&gt;2. Perlu ada sikap tegas dari Pemerintah Pusat atau Mahkamah Konstitusi untuk &lt;br /&gt;   meninjau ulang semua perda, pergub dan Keputusan lainnya yang dibuat oleh para &lt;br /&gt;   pejabat berwenang dari pusat sampai daerah yang bersifat diskriminatif dan &lt;br /&gt;   berindikasi melanggar HAM serta mengganggu Kerukunan antar Umat Berkeyakinan &lt;br /&gt;   Terhadap Tuhan yang Maha Esa&lt;br /&gt;3. Perlunya pembudayaan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang terdapat dalam &lt;br /&gt;   nilai-nilai kearifan lokal atau Indigenous Knwoledge budaya suku-suku dab sub &lt;br /&gt;   suku bangsa Nusantara dalam upaya membentuk karakter manusia Indonesia dan &lt;br /&gt;   generasi penmerus bangsa yang "BERKARAKTER KUAT AKAN JIWA PATRIOTIS KEBANGSAAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan NKRI agar selalu menyelesaikan masalah dengan prinsip norma dan nilai luhur budaya Sunda yang berkembang di tatar Sunda yaitu HERANG CAINA-BEUNANG LAUKNA ( duduk bersama dengan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan didasari itikad baik, hati bersih dan pikiran kebaikan agar didapatkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak) KALAYAN NYELESEYKEUN PERKARA KU CARA SIKAP ANU LANDUNG KANDUNGAN LAER AISAN (mengambil kebijakan dengan penuh kearifan dan bijaksana penuh pertimbangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu untuk tidak dilupakan adalah 3 (tiga) tahun sudah berlalu kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyodorkan 7 komitmen moral jika terpilih. Jika dalam jangka waktu tiga tahun komitmen itu tidak terwujud, siap mundur dari jabatannya.&lt;br /&gt;Ketujuh komitmen moral tersebut adalah :&lt;br /&gt;1. menyerap satu juta lapangan kerja melalui pengadaan dan peningkatan UKM dengan &lt;br /&gt;   anggaran Rp 200 miliar/tahun&lt;br /&gt;2. membebaskan SPP dan pemberian bantuan buku, perbaikan gedung sekolah, serta &lt;br /&gt;   penambahan gaji guru negeri dan swasta dengan anggaranRp 200 miliar/tahun&lt;br /&gt;3. meningkatkan kesejahteraan petani melalui dana talangan untuk menjamin stabilitas&lt;br /&gt;   harga pupuk dan gabah sebesar Rp 200 miliar/tahun&lt;br /&gt;4. pembangunan jalan dan irigasi dengan anggaran Rp 200 miliar&lt;br /&gt;5. pengalokasian dana khusus sebesar Rp 50 miliar setiap tahun untuk operasi pasar &lt;br /&gt;   bila harga sembako naik&lt;br /&gt;6. pengembangan dan revitalisasi posyandu untuk kesehatan ibu, anak dan lansia &lt;br /&gt;   sebesar Rp 50 miliar/tahun&lt;br /&gt;7. mendukung eksistensi praktisi perkebunan untuk mendapat hak guna usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita patut bertanya pada kondisi yang ada. Apakah ini sebagai bagian dari skenario pengalihan issue? karena kebijakan politik Gubernur Jawa Barat nyata-nyata tidak memiliki kearifan lokal dan tidak menjawab komitmen moral yang dicanangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAWALA LUHUNG RAHAYAT TATAR SUNDA NGAJAGA NANJEURNA PANCASILA, KONSTITUSI UUD 1945 PIKEUN KAUTUHAN NKRI&lt;br /&gt;(Dewan Musyawarah Kasepuhan Masyarakat Adat Tatar Sunda, Forum Berlian, Rumah Kaum Muda, IMA AMS, Keluarga Mahasiswa Bandung Forum Muda Bandung, Garda Pasundan, GPPK, Pemuda Pancasila, IPK, GAMKI, Gema Kosgoro, KIM Jabar, Pasundan Asih, Sapma PP, PRI, Format Jabar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Indonesia Menggugat Bandung, 23 Maret 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-6388520098537070611?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/6388520098537070611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=6388520098537070611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6388520098537070611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6388520098537070611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2011/03/press-realease-sawala-luhung-rahayat.html' title='PRESS REALEASE SAWALA LUHUNG RAHAYAT TATAR SUNDA'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1055959309887458262</id><published>2011-03-23T23:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T00:48:07.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sora &quot;sadagori&quot; Rahayat Tatar Sunda'/><title type='text'>Panggeuing Pakeun Elite Pejabat Jabar</title><content type='html'>Akhir-akhir ieu polemik perbedaan persepsi kayakinan masarakat di masarakat Jawa Kulon nyaeta di wewengkon tatar Sunda rada aheng. kadang sok aya kajadian nu dianggap anarkis, intimidatif jeung inskonstitusional. Samalah aya kesan eta kalakuan kitu teh teu saeutik ngabalukarkeun potensi konplik boh anu sifatna "horizontal" jeung "vertikal". Ayana kawijakan pamarentahan di Jawa Barat boh tingkat provinsi atawa kabupaten anu pasalia jeung konstitusi Nasional, UUD 1945. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayana campur tangan pihak polisi boh militer anu kadang siga nu teu paham kana kondisi budaya masarakat Sunda anu pengkuh turta mibanda niley kaakur-rukunan dina perbedaan, teu saeutik ngabalukarkeun "seolah" ngarojong kana kawijakan-kawijakan pemda anu mengpar tina konsitusi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masarakat Jawa Kulon, rahayat tatar Sunda, samemeh kabentuk pamarentahan kanagaraan kaasup provinsial tur distrik/kabupaten, geus ngawengku tatanan niley anu wijaksana dina nutaskeun sakur masalah sosial kalayan "herang caina beunang laukna". Lantaran para elite rahayat tatar Sunda harita tangtuna pageuh dina tetekon dasa pasanta katut parigeuingna. Teu saeutik mangsa bihari loba Pupuhu Elite Sunda anu "landung kandungan laer aisan" samemeh mutuskeun hiji perkara/masalah. Timbang-tinimbangan anu jero tur lantip pikir jembar manah eta teh dilantarankeun ulah aya balukar nu teu hade, utamana anu ngarugikeun masarakat/rahayat leutik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kahareup, wayahna urang sakabeh rahayat tatar sunda, jawa kulon/jawa kulwan, kudu asak-asak nya ngejo dina milih pipamingpineun di Jawa Barat, ulah kabebenjokeun ku rupa, wandana, sok komo ku pangkat/status sosialna, sok komo parteyna, tapi leuwih poko ningali kumaha "laku lampahna, ules watekna, pola pikirna, jeung kapaduliana ka rahayatna nu teu pandang bulu, teu wiwilahan tapi ngauban, mayungan tur ngajaga katengtreman sakumna rahayatna. Utamana deui jaga, urang bisa boga pamingpin Ki Sunda teh anu enya-enya nanjeurkeun ajen inajen kamanusaan, kabangsaan, tur kayakinan kana kaagungan Nu Maha Murba ing Alam jagat sagemblengna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayeuna jaman keur pahibut, nu mimiti pahibut ribut ti dapur, laju salembur, laju sanagara, sabab kalakuan "budak buncireung" hartina jalma-jalma elite anu korupsi, teu cukup jeung tara boga rasa "sukur" kanu Kagungan Cipta, Gusti Nu Maha Tunggal.&lt;br /&gt;Jaman "SANGAR"..loba jalma nu "owah ku kayakinana"..loba jalma "owah ku harta bandana"..loba jalma "owah ku pangkat darajatna"...loba jalma "owah ku katurunanana/kamenakanana"..jeung sajabana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cenah, baris aya nu nyapih ku "budak angon" anu imahna di birit leuwi, pantona batu satangtung, ngangona ngangon kalakay jeung sajabana..jeung sajabana..Aya nu medar, eta teh ngandung harti yen "budak angon" teh lain sasaha, tapi saha bae anu bisa bener-bener jejem panceg pengkuh tur tigin dina kajembaran manah ngadegkeun jagat kamanusan, hartosna oge eta "budak agon" teh nyaeta manusa anu berperikamanusaan, anu bener-bener tekad-ucap katut lampahna sagaris, teu mengpar tina tetekon ajen inajen kamanusaan, teu boga sipat pasipatan sirik, pidik, munapek, jail, kaniaya, koret, anarkis, adigung adiguna, jeung pasipatan goreng sejena. aya teu nu kitu ayeuna? cuuung..ngacung !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dina jaman "SANGAR" ataua "SAGALA SANGAR" ayeuna bisa kasebut jaman "EDAN loba nu GARELO".."gelo ku awewe, gelo ku harta banda, gelo ku pangkat, gelo ku darajat, gelo ku terah teureuh, gelo ku jabatan, gelo ku pamuji, jeung gelo-gelo liana...majar cenah mun urang teu milu "gelo" justru uarng teh nu kaasup "jalma gelo", kukituna teu saeutik kalobaan jalma kaasup pamingpin nagara urang loba nu milu "GARELO" da embung disebut "jalma gelo eta". Tah ieu nu kasebut " ikut arus nepi ka kabawa arus". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayeuna hese neangan pamingpin panutan urang Sunda anu bener-bener nangtung dina "BEBENERAN". Boh ti militerna, kaum rohaniwana, kaum politikusna, pajabat pamarentahana, jeung liana, sok komo para anggota (cenah) wakil rahayat mah (anggota dewan)..wawakil tapi leuwih beunghar batan anu ngawakilkeunana. Ti Presiden, Gubernur, bupati, walikota, camat, lurah/kades nepi ka RT/RW na aranglangka nu picontoeun nu bener, sok komo nu enya-enya ngabela ka rahayatna. Matak, ayeuna sigana geus wayahna "muntang ka sadagori" rahayat sakumna. Sabab, tatangkalan "pananggeuhan" mah geus beak ku hama nu geus "raregas" kari nungguan rungkadna ku jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boa enya, "budak angon teh" ayana dina "sadagori" eta. sanajan rahayat leutik asalna, tapi kuat dina "akar budaya bangsana, kuat dina adeg-adeg nu mandiri, tur kuat dina adeg-adeg ajen inajen kamanusaanana"..sinatria pilih tanding. sanajan 'sadagori' mah di handap, kaleyek, katincak, kakotoran, kahina samalah teu kapalire, tapi angger anteb "nanceb lemah, nanceb bumi pertiwi" nu ngandung maksud tetap "MIKANYAAH KA INDUNG NU NGANDUNG TUR INDUNG NU TEU NGAKANDUNG..BUMI PERTIWI SUNDA".&lt;br /&gt;Sabab boga kasadaran, iwal ti manusa nu bakti indungna tur ngajen/hormat ka bapana (lemah cai jeung budayana) eta manusa geus boga kasadaran "kukuh pengkuh kana jangji" dikersakeun jadi hiji manusa nu ngabogaan cara jeung ciri bangsana", nu geus diguratkeun, dikudratkeun ku Hyang Cipta nu Ngersakeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malsu budayana, lasut hirupna..malsu kamanusaanana, kasasar lampahna, malsu kabangsana, hianat kapribadiana...malsu ka rahayatna, sangsara batina dunya aheratna..malsu ka alam jeung lemah caina, marakayangan arwah akhirna...muga geura urang babarengan "hudang miajen deui kana jatidiri kabangsaanana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muga jaga, rentul-rentul kembang harepan Ki Sunda sing jaradi Sinatria tru Pamingpin rahayat nu sajati...dipicinta jeung micinta ka rahayat sakumna...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                   kontributor(C)I_Indrawardana&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                                                   Maret, 24, 2011. Jatinangor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1055959309887458262?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1055959309887458262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1055959309887458262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1055959309887458262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1055959309887458262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2011/03/panggeuing-pakeun-elite-pejabat-jabar.html' title='Panggeuing Pakeun Elite Pejabat Jabar'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-8164024726236951418</id><published>2010-10-12T22:53:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T22:55:21.673-07:00</updated><title type='text'>Siaran Pers Konferensi Internasional Resolusi PBB 1325</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;Siaran  Pers&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;Asian  Women Peacemaker’s Conference&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;The  Inter-faith Perspective in Realizing the Role of Women Peacemaker in the   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;Implementation  of UNSCR  1325&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;30  September 2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;‘Konferensi Perempuan Asia  tentang Perdamaian yang Berperspektif Lintas Iman’ ini merupakan upaya  untuk  berbagi pengalaman dan menggunakan pengetahuan perempuan untuk membangun   perdamaian. Konferensi ini dihadiri oleh organisasi-organisasi perempuan  di Asia  (Indonesia, Malaysia, India, Philipina, Nepal, Afganistan, Timor Leste)  dengan  dukungan aktivis perempuan lintas negara (Masyarakat Diaspora yang  berdomisili  di Belanda: dari Somalia, Burundy, dan Ethiopia) yang memiliki  kepedulian  terhadap isu perdamaian, khususnya untuk melihat sejauh mana Resolusi  PBB 1325  disusun dan diimplementasikan oleh negara-negara. Konferensi ini  diselenggarakan  oleh: Komnas perempuan, MWPN (Multicultural Women Peacemaker Network),  ICRP  (Indonesian Conference on Religion and Peace), IFOR/WPP (International  Fellowship of Reconciliation-Women Peacemakers Program), yang didukung  oleh  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik  Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;Resolusi PBB 1325 bagi Perempuan,  Perdamaian, dan Keamanan telah disahkan Dewan Keamanan PBB pada tanggal  31  Oktober 2000 yang secara khusus menitikberatkan dampak perang pada  perempuan  serta kontribusi perempuan dalam pencegahan konflik dan upaya membangun  perdamaian. Resolusi PBB 1325 adalah hukum internasional yang  memandatkan  negara-negara anggota PBB untuk mengimplementasikannya. Resolusi ini  menjadi  dasar untuk memastikan perlindungan dan pemberdayaan perempuan di  wilayah  konflik dan menjamin keterlibatan/ partisipasi perempuan dalam proses  pengambilan keputusan di setiap tingkatan berkaitan dengan isu konflik  dan  perdamaian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN-SG"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN-SG"&gt;Salah satu  pembelajaran dari negara yang telah mengimplementasikan&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;Resolusi PBB 1325, dan berdasarkan analisis konflik yang banyak  terjadi  di Indonesia, seringkali interpretasi yang bias berkaitan dengan  agamamenjadi  bibit konflik yang baru dan dalam kondisi seperti ini, perempuan menjadi  korban.  Oleh karena itu, perspektif lintas iman perlu menjadi salah satu aspek  yang  penting diperhatikan dalam rangka mengimplementasikan Resolusi PBB 1325  ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;Konfrensi ini merumuskan sejumlah  isu penting berkaitan dengan 3 aspek:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;Perlindungan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;; minimnya  upaya  perlindungan bagi perempuan korban di wilayah konflik dan paska konflik,   khususnya bagi perempuan korban kekerasan seksual, perempuan pengungsi,  korban  diskriminasi dan marginalisasi berbasis identitas budaya, iman, dan  etnis  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;Promosi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;; pentingnya  upaya  pemberdayaan perempuan sebagai agen perdamaian serta mendorong munculnya   pemimpin perempuan di komunitasnya masing-masing &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;Partisipasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;; mengupayakan   keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam upaya pencegahan dan  penyelesaian  konflik, serta upaya-upaya lain dalam rangka paska konflik (misalnya  repatriasi  dan reparasi).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;Konferensi Asia selama dua hari  ini telah merekomendasikan: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;Negara-negara menyusun Nasional  Action Plan untuk memastikan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;penerapan Resolusi PBB 1325  menjadi agenda, strategi, dan komitmen Negara, yang diimplementasikan  dalam  kebijakan konkret Negara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;Negara-negara memastikan  terjadinya reformasi birokrasi, secara khusus reformasi sektor keamanan  untuk  mendukung upaya pencegahan dan penyelesaian konflik dengan perspektif  perempuan  dan lintas iman &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="FI"&gt;Negara-negara menjamin  perlindungan hak-hak perempuan korban konflik, promosi dalam rangka  pemberdayaan  perempuan, dan partisipasi perempuan dalam setiap tingkatan proses  pengambilan  keputusan khususnya yang berhubungan dengan upaya-upaya membangun  perdamaian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-8164024726236951418?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/8164024726236951418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=8164024726236951418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/8164024726236951418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/8164024726236951418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2010/10/siaran-pers-konferensi-internasional.html' title='Siaran Pers Konferensi Internasional Resolusi PBB 1325'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-3233866843821405094</id><published>2010-10-12T22:50:00.001-07:00</published><updated>2010-10-12T22:58:54.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Istrenan Duta Sawala ku Baresan Olot Tatar Sunda'/><title type='text'>WUWUHAN MATAREMAKEUN PANCEN KA DUTA SAWALA TI WAWAKIL BARESAN OLOT TATAR SUNDA</title><content type='html'>“…NDAH NIHAN WARAHAKNA SANG SADU..”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ SAHA DAEK NANJEURKEUN SASANA KERTA PAKEUNEUN HEUBEUL HURIP NU KANGKEN BIJIL TI NIRMALA NING LEMAH, MA NGARANA INGET DI SANGHYANG SIKSA, MIKUKUH TALATAH AMBU BAPA, AKI LAWAN BUYUT. NYAHO DISIKSAAN MAHA PANDITA, MAGEUHEKUN UJAR ING KERTA. PAHI NYAHO DI SABDA PREBU, SANG RAMA, SANG RESI, BIAS MATITISKEUN BAYU, SABDA HEDAP. SAKITU MA DASAPASANTA, GEUS MA; GUNA, RAMA, HOOK, PESOK, ASIH, KARUNYA, MUPRERUK, NGULAS, NGECAP, NGLA ANGEN,. NYA MANA SUKA BUNGAH PADANG CAANG NU PIWARANG. YA TA SIANANGGUH PARIGEUING NGARANA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI PAKEUN URANG NGRETAKEUN BUMI LAMBA..&lt;br /&gt;HAYWA PA ALA-ALA PALUNGGUHAN&lt;br /&gt;HAYWA PAALA-ALA PAMEUNANG&lt;br /&gt;HAYWA PAALA-ALA DEMAKAN&lt;br /&gt;APANAN PADA PAWITANNYA, PADA MULIANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEGUHKEUN, PAGEUHKEUN SAHINGGA NING TUHU, PEPET BYAKTA WARTA MANAH. &lt;br /&gt;MANA KRETA NA BUWANA, MANA HAYU IKANG JAGAT, KENA TWAH NING JANMA KAPAHAYU&lt;br /&gt;MANA LEUMPANG DILEUMPANGKEUN..LEUNGEUN SAMBUNG DICOKOTKEUN..NA CEULI DIPAREUNGEUKEUN NA IRUNG DIPANGAMBEUKEUN..MANAH NYAREK DICAREKEUN LAMUN NYAJA NU NGUNDANG SAKITU.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYA IEU NU JADI CIRI…..KUJANGPAJAJARAN                                                                  &lt;br /&gt;MUGA SING KUKUH KANA JANGJI..&lt;br /&gt;JANGJI PAKEUN NGAHUDANGWAYANGKEUN AJEN INAJEN ADAT NU SAPAJAJARAN&lt;br /&gt;DINA BASA SAPRABU SABALE GANDRUNG SA SUNDA SAILIWANGI&lt;br /&gt;PANCEG DI GALEUH PAKUAN…&lt;br /&gt;PRAK GEURA NINDAK DIAPING KU BARIS OLOT SATATAR SUNDA !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-3233866843821405094?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/3233866843821405094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=3233866843821405094' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3233866843821405094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3233866843821405094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2010/10/wuwuhan-mataremakeun-pancen-ka-duta.html' title='WUWUHAN MATAREMAKEUN PANCEN KA DUTA SAWALA TI WAWAKIL BARESAN OLOT TATAR SUNDA'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1703239395663244628</id><published>2010-03-17T03:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T01:48:56.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hal.60-62'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ma&apos;mur Danasasmita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='2001. STSI Press. Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dikutip dari Wacana Bahasa dan Sastra Sunda'/><title type='text'>SANGHIANG SIKSA KANDANG KARESIAN (KROPAK No.630)</title><content type='html'>Transkripsi naskah SSKK dilakukan oleh Atja, dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-16 Universitas Padjadjaran Bandung. Sekaligus merupakan hasil penelitian kembali naskah-naskah kuno dari Lembaga Kebudayaan Unibersitas padjadjaran.&lt;br /&gt;Dalam kata pengantarnya dikatakan bahwa pemilihan maskah tersebut untuk menyambut Dies natalis ke-16 Unpad ialah karena kebetulan mempunyai hal-hal yang menarik baik isi maupun kesamaan angka 16-nya. hal-hal itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Siksa Kandang Karesian mempunyai isi semacam ensiklopedi tentang pemerintahan, kepercayaan, kebudayaan, kesusatraan, pertanian, etika, kemiliteran, dan lain-lain dari masyarakat Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Siksa Kandang Karesian sebuah naskah Kuno yang mempunyai Candrasangkala yang berbunyi : &lt;em&gt;nora catur sagara wulan, &lt;/em&gt;bila dibuat tahun Saka ialah 1440, sama dengan tahun 1518AD, atau awal abad ke-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Siksa Kandang Karesian penting ditranskripsi dan diterjemahkan untuk dijadikan salah satu sumber dalam penelitian, penulisan sejarah, kebudayaan, sastra, kesenian, kepercayaan dari masyarakat sunda awal abad ke-16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Belum pernah diterjemahkan dan betapa pentingnya naskah ini jelas dikemukakan oleh Drs. Amis Sutaarga dalam penelitian sementaranya yang berjudul &lt;em&gt;Prabu Siliwangi&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Ratu Pakuan Guru Dewata Prana sri Baduga Maha Raja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran 1471-1513,&lt;/em&gt; penerbit P.T. Duta Rakyat bandung, hal.55, yang berbunyi : "Amat disayangkan, bahwa naskah ini (yang dimaskud adalah Siksa Kandang Karesian) yang sampai sekarang (waktu itu tahun 1965) masih tersimpan dalam koleksi naskah-naskah Museum Pusat di Jakarta belum pernah dibuat transkripsi dan terjemahannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi naskah SSKKtidak merupakan suatu kisah atau cerita sebagaimana Carita Ratu Pakuan, melainkan berisi petunjuk dan bimbingan hidup dan kehidupan manusia di dunia agar mencapai kebahagiaan (&lt;em&gt;mapahayu&lt;/em&gt;) dan keunggulan. dan yang memberikan petunjuk (&lt;em&gt;warahakna&lt;/em&gt;) atau petuah adalah Sang Sadu, dan agar menjadi peringatan bagi semua orang. hal nampak dalam kalimat permulaanya berbunyi : " &lt;em&gt;ndah nihan warahakna sang sadu, de sang mamaet hayu. Hana Sanghyang siksakanda (ng) Karesian ngaranya; kayat-nakna wong sakabeh".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saleh Danasasmita bahwa SSKK ditulis pada masa Pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521). Sri baduga Maharaja adalah cucu dari Wastu Kancana, yang pernah tinggal di keraton Surawisesa di Kawali, sehingga dapat disimpulkan, ia mengetahui benar filsafat hidup jaman kakeknya. Menurut Saleh Danasasmita, bahwa dalam keropak 630 SSKK tersebut terdapat Nilai-nilai dan pandangan Hidup manusia Jawa Barat, yaitu :&lt;br /&gt;1. &lt;em&gt;Mahayu dora sapuluh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;em&gt;Mikukuh dasa prebakti&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;em&gt;Pancaaksara guruning janma&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;em&gt;Mikukuh darma pitutur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;5&lt;em&gt;. Ngawakan tapa di nagara&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;em&gt;Tri Tangtu di nu reya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;em&gt;Hirup cukup teu kaleuleuwihi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;em&gt;Ulah pupujieun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;em&gt;Ulah bohong, ulah maling, jeung pamali&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesuai dengan amanat dalam prasasti Kawali yang dibuat oleh Wastu Kancana, bahwa secara ringkas kesejahteraan dan kejayaan negara harus melalui dua jalan UTAMA, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;MAGAWE RAHAYU dan MAGAWE KERTA.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;kontibrutor(c)I_Indrawardana. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1703239395663244628?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1703239395663244628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1703239395663244628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1703239395663244628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1703239395663244628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2010/03/sanghiang-siksa-kandang-karesian-kropak.html' title='SANGHIANG SIKSA KANDANG KARESIAN (KROPAK No.630)'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-4438276914097734919</id><published>2010-02-07T23:25:00.001-08:00</published><updated>2010-07-19T02:47:40.588-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Hukum dan Implementasinya dalam Budaya Hukum di Indonesia</title><content type='html'>Tulisan ini berangkat dari suatu pengalaman, pengamatan dan buah pemikiran (setidaknya sebagai hasil perenungan) bahwa masih banyak kesimpangsiuran dan ketidakjelasan atau bahakan ketidakadilan dalam masalah hukum dan implemetasinya di negara Indonesia yang kita cintai. Ada pendapat menurut ahli hukum bahwa Indonesia menganut "hukum positif" yang didalamnya mengakui dan mengimplementasikan kombinasi antara " Hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis". Secara pandangan sederhana bahwa hukum tertulis yang dimaksud adalah seperangkat aturan yang dilegitimasi oleh suatu lembaga negara atau kemasyarakatan dan dibuat secara tertulis dengan atau berikut sangsi-sangsi yang jelas dan tertulis. Selanjutnya yang dimaksud hukum tidak tertulis adalah segala peraturan dan kehidupan masyarakat yang pada umumnya "memang" tidak tertulis, meski ada juga yang awalnya tidak tertulis kemudian menjadi tertulis (dituliskan). Hukum tidak tertulis yang dimaksud juga biasa juga disebut sebagai hukum adat (adat recht).&lt;br /&gt;      Berangkat dari dua konsep hukum dimaksud di atas (yaitu hukum tertulis dan tidak tertulis) dalm implemetasinya sering terjadi tumpang tindih atau bahkan "konflik legalitas hukum" di masyarakat. Tidak sedikit terjadinya persengketaan antara misalnya hukum ulayat dengan hukum atau peraturan PERHUTANI. tidak sedikit juga terjadi konflik antara penyelesaian kasus adat yang kontra dengan penyelesaian hukum formal (tertulis), misal kasus konflik sampang-sampit. Bahkan tidak jarang juga masyarakat Indonesia terutama kaum "masyarakat sederhana" yang notabene "awam hukum formal" dibodohi dan dipecundangi oleh pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan "hukum atau peraturan tertulis", baik itu yang mengatasnamakan  hukum negera atau hukum "agama (import/luar)". Kasus lainnya juga yang tidak kalah menarik perhatian khalayak adalah kasus pernikahan adat yang masih belum "disahkan" secara negara karena dianggap tdk sah secara hukum "agama luar" dan dianggap tidak tertulis serta tidak ada legitimasi para pemuka adatnya, maka juga dikategorikan pada maslaah konflik hukum yang masih kompleks saat ini. sebuta saja kasus pernikahan orang dayak, orang kejawen sedulur sikep, orang di pedalaman papua, orang sundawiwitan dan sebagainya masih belum mendapatkan akta pernikahan dilantarankan perkawinan itu tidak sesuai "hukum tertulis negera dan atau agama luar". sungguh ironis sekali. namun demikian hal ini tidak banyak para ahli hukum dan pejuang HAM melirik dan memeperjuangkan secara sungguh-sungguh kasus ini. Bahkan Direktorak Kepercayaan pun masih mengalami "kebingungan" untuk menyikapi masalah ini secara serius dan sungguh-sungguh (entah apa yang menjadi kendala mereka sehingga tidak melihat hal ini sebagai sesuatu yang penting untuk diperjuangkan). padahal sejatinya adalah "hak setiap warga negara untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan hukum yang sama di muka umum."&lt;br /&gt;      Hal yang sangat menggemparkan lagi manakala para pelanggar "hukum formal" adalah mereka yang notabene "sangat mengerti hukum formal" itu sendiri. misalnya para birokrat yang korupsi, para aparat penegak hukum yang menjadi mafia peradilan, dan kolusi dan sebagainya. Andaikan masyarakat "awam yang terbiasa" melakukan kehidupan dengan pedoman "hukum tidak tertulis" menjadi melanggar "hukum formal" karena ketidaktahuan, mungkin sangatlah wajar, tetapi sebaliknya aparat penegak hukum, kaum birokrat dan politisi yang mengerti hukum formal "secara terang-terangan" melakukan penyimpangan aturan hukum tertulis sangatlah tidak wajar, misalnya kasus Bank Century yang sedang hangat dibicarakan orang dan berbagai media massa. Naun yang sangat disayangkan pula ketika warga masyarakat adat yang jelas-jelas dalam tuntunan perilaku kehidupannya didasarkan dan berpedoman pada hukum tidak tertulis, sering "didakwa" atas nama ketidaksesuaian terhadap "hukum tertulis". ketidakjelasan dalam pemilahan masalah hukum di Indonesia dengan implemetasinya ini adalah masalah serius yang harus betul-betul disikapi oleh berbagai pihak, apalagi Indonesia sudah banyak meratifikasi hukum dan dan perundang-undangannya dengan hukum yang disepakati dan konvensi PBB (DUHAM dunia).&lt;br /&gt;    Sampai kapan hal ini akan dibiarkan? sampai kapan negara ini hidup dalam ketidakteraturan hukum dan ketidakadilan dalam implementasi hukum dengan berbagai polemiknya? paling tidak seharusnya pemerintah segera membenahi hukum dan peraturan-peraturan tertulis lainnya dengan menyesuaikan "budaya hukum" yang berkembang di masyarakat Indonesia yang multi budaya, multi etnis dan multi adat. Karena sejauh ini ada anggapan bahwa Hukum di Indonesia masih "kental" dengan nuansa "Hukum warisan kolonial Belanda". sepertinya adanya kesimpangsiuran dan lebih jauh banyaknya konflik masyarakat dalam masalah penyimpangan hukum, karena pemerintah dan lembaga-lembaga penegak hukum beserta aparatnya tidak memahami budaya hukum yang berkembang di indonesia. Dalam hal inilah masalah HAM di Indonesia tentunya akan berbeda dengan maslah HAM di belahan dunia lainnya, artinya juga hukum dan peraturan untuk ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengan budaya hukum yang berkembang di masyarakat Indonesia agar terjadi keharmonisan dan keadilan dalam melihat dan menyelesaikan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kontributor(c)I_Indrawardana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-4438276914097734919?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/4438276914097734919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=4438276914097734919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4438276914097734919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4438276914097734919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2010/02/refleksi-hukum-dan-implementasinya.html' title='Refleksi Hukum dan Implementasinya dalam Budaya Hukum di Indonesia'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-2982065937469298640</id><published>2009-01-08T01:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:56:32.135-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengungkap dilema di balik fenomena Budaya Adat Sunda'/><title type='text'>Dilema Upacara Seren taun Cigugur sebagai Ritual Adat, Pariwisata dan Stigma Politis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" lang="SV" &gt;Kehidupan Masyarakat Cigugur (di kaki Gunung Ciremai) yang terdapat di wilayah Kabupaten Kuningan menurut beberapa kalangan memiliki keunikan tertentu. Hal yang menjadi ciri keunikan itu diantaranya adalah berkembangnya kehidupan masyarakat etnik Sunda yang menganut berbagai keyakinan baik agama “umum continental” atau “agama semit” seperti Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha dan Hindu serta keyakinan sistem kepercayaan adat atau “agama lokal” atau penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keanekaragaman keyakinan ini sebagai ciri juga berkembangnya kehidupan masyarakat yang pluralis. Ironisnya, Cigugur adalah sebuah desa dimana mayoritas pengikut Kiyayi Madrais (Pangeran Sadewa Alibasa Kusumawijayadiningrat) tinggal, telah dipuji-puji oleh banyak kalangan, termasuk berbagai media masa (Kompas, Suara Pembaharuan dll) bahkan masyarakat berbagai negara yang pernah berkunjung ke sana, sebagai masyarakat yang corak kerukunan dan toleransi agamanya paling ideal di tanah air. Dalam banyak keluarga di masyarakat Cigugur telah terbiasa kehidupan multi agama untuk masing-masing anggota keluarga tanpa haus mempersoalkan perbedaan keyakinan sebagai sumber pertentangan. Berkaitan dengan hal itu dalam masyarakat Cigugur, hidup suatu komunitas yang memegang teguh tradisi kepercayaan adat Sunda. Salah satu manifestasinya nampak dalam suatu tradisi seremonial ritual adat yang dinamakan dengan Upacara Adat Seren Taun setiap tanggal 22 Rayagung dalam sistem penanggalan Sunda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" lang="SV" &gt;Pada kenyataannya upacara Seren Taun tersebut dilakukan secara kolosal oleh berbagai lapisan masyarakat pluralis Cigugur, bahkan diikuti juga oleh masyarakat lain dari luar Cigugur yang masih terikat dalam kesatuan sistem kepercayaan adat Sunda Cigugur (seperti dari Garut,Ciawi, Bandung, Ciawi, Banjar, dan Ciamis). Integrasi sosial dari perbedaan keyakinan diantara masyarakat Cigugur dibangun dan dilandasi dari suatu komunikasi budaya etnik Sunda. Anas Saidi (2004) dalam Menekuk Agama Membangun Tahta berpendapat bahwa di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang belajar kembali memahami arti pluralisme, dan agama telah “gagal” menampilkan keampuhannya dalam membuktikan diri atas doktrin unifikasinya, maka fenomena Cigugur dalam tahap tertentu, adalah sebuah “ilham” (penulis lebih sepakat dengan menekankan “ilham kedamaian pluralitas sosial budaya Indonesia”). Hal ini kuat atau erat kaitannya antara ideologi toleransi lokalistik dengan ajaran spritual “Madraisme” yang secara implisit maupun eksplisit dikembangkan oleh masyarakat pendukung upacara Adat Seren Taun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Meskipun demikian secara historis ajaran spiritual yang diusung masyarakat Cigugur mengalami “pergolakan” yang diskriminatif oleh pemerintah lokal mapun regional bahkan sampai sekarang. Pergolakan itu sejak awal-awal masa reformasi tidak menjadi permasalahan yang bersifat &lt;i&gt;debatable&lt;/i&gt; atau perguncingan serius di kalangan masyarakat Kuningan, karena pada kenyataannya masalah perbedaan agama dan keyakinan terhadap persepsi “madraisme” dan kesundaaan di Cigugur secara &lt;i&gt;inheren&lt;/i&gt; diletakkan dalam masalah yang bersifat benar-benar &lt;i&gt;privacy&lt;/i&gt;. Bahkan yang nampak adalah semangat kebersamaan dan kesetaraan di kalangan mereka dalam mengusung warisan nenek moyang Sunda sebagai wujud religiusitas manusia Sunda di Cigugur. Di lain pihak pelarangan yang pernah terjadi selama kurang lebih 17 tahun oleh pemerintah orde baru disinyalir akibat menguatnya &lt;i&gt;hegemoni state&lt;/i&gt; berupa tindakan yang bersifat &lt;i&gt;violence by law&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;violence by action &lt;/i&gt;terhadap &lt;i&gt;custom society&lt;/i&gt; (masyarakat adat), meskipun di lain pihak pemerintah sangat membutuhkan mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sebatas “&lt;i&gt;artificial&lt;/i&gt;” memanfaatkan atau mengeksploitasi budaya sebagai modal pariwisata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" lang="SV" &gt;Konsepsi adat yang ada dalam sistem nilai masyarakat Cigugur untuk terus menjaga tatanan sosial dan sistem keyakinan yang multi religi itu ditekankan oleh sesepuh masyarakat adat Ciigugur (P.Djatikusumah, cucu dari Pangeran Sadewa Alibasa Kusumawijayaningrat atau “Madrais”) berupa konsepsi nilai “pentingnya menekankan kesamaan “pengertian” dalam kehidupan sosial dan budaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daripada “perbedaan” yang mengarah pada potensi pertentangan dan konflik sosial budaya”. Hal lain juga yang berkaitan dengan pembentukan “&lt;i&gt;nation character&lt;/i&gt;” adalah perlunya masyarakat Indonesia (dan masyarakat adat khsususnya) untuk memperjuangkan hak budaya dan kebangsaannya (kesukubangsaannya) yang bersifat universal dan kodrati dalam persepsi konsepsi “tanah adegan”. Selain memperjuangkan hak-hak atas tanah ulayatnya (sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;konsepsi dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“tanah amparan”). Dengan demikian adanya Upacara Adat Seren Taun di Cigugur, selain sebagai manifestasi ungkapan rasa syukur umat insani yang religius di kalangan masyarakat Sunda dan lainnya, juga memiliki dimensi perspektif lain yang berkaitan dengan aspek kebangsaan terutama dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" lang="SV" &gt;Seren Taun Cigugur tidak hanya menjadi penanda dari eratnya jalinan antar para penduduk setempat, tetapi juga dengan berbagai masyarakat adat, bangsa dan agama atau keyakinan yang berbeda-beda (Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan Penghayat Keperyaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Keadaaan ini pada kenyataannya tidak hanya melibatkan warga yang tinggal di Cigugur saja, upacara adat tahunan ini juga dipadati oleh warga yang datang dari di Bandung, Sumedang, Garut, Ciawi, Ciamis, Tasik, Cirebon dan daerah Jawa Barat lainnya (bahkan ada yang dari luar Jawa Barat). Mereka bekerja bersama-sama mempersiapkan kelengkapan upacara dan melaksanakan seluruh rangkaian prosesi ritual dengan penuh khidmat dalam suasana gotong royong.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:11;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-2982065937469298640?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/2982065937469298640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=2982065937469298640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/2982065937469298640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/2982065937469298640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/dilema-upacara-seren-taun-cigugur_08.html' title='Dilema Upacara Seren taun Cigugur sebagai Ritual Adat, Pariwisata dan Stigma Politis'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-3313354381691556708</id><published>2009-01-08T01:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:35:35.772-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi ini sebelum adanya prosesi Damar Sewu'/><title type='text'>Tradisi Upacara Seren Taun di Cigugur-Kuningan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Seren Taun merupakan tradisi permohonan syukur masyarakat khususnya Jawa Barat sebagai masyarakat agraris kepada Sang Pencipta Kehidupan. Tradisi ini dapat dijumpai di beberapa masyarakat adat di Jawa Barat-Banten seperti di ; masyarakat Kanekes, Sumedang Larang (Ranca Kalong), Kampung Naga-Tasik, Cipta Gelar-Sukabumi dll. Upacara Seren Taun yang diselenggarakan di Cigugur Kuningan Jawa Barat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi menarik untuk didiskusikan karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan potret kehidupan sosial masyarakatnya. Menjadi unik karena pelaksanaan Seren Taun di Cigugur dapat melibatkan semua unsur yang ada di masyarakat tanpa membedakan suku, agama, jenis kelamin dan usia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Gill Sans MT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Kehidupan masyarakat Cigugur yang menghargai keberagaman tidak hanya tampak pada event budaya Seren Taun yang diselenggarakan sekali dalam setahun, tetapi lebih dari itu nilai-nilai kebersamaan , kerukunan dalam perbedaan sudah terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepekan sebelum prosesi upacara Adat Seren Taun berlangsung diawali dengan Pesta Dadung yang berlokasi di Situ Hyang pada Pagi hari setelah fajar tiba. Kawasan Situ Hyang merupakan sebuah kawasan pebukitan yang dikelilingi bebatuan, yang konon menurut masyarakat di sekitar kawasan tersebut terkenal cukup angker. Inti dari Pesta Dadung adalah membuang hama. Penggunaan Dadung atau tambang besar yang terbuat dari ijuk, mengekspresikan rasa terima kasih masyarakat kepada anak gembala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;Nyanyian yang berisi permohonan berkah, agar petani, gembala, ternak dan sawah diselamatkan dari mara bahaya, menjadi pembuka acara ini. Setelah itu, barulah hama sawah dibuang ke lubang di Situ Hyang, yang konon sejak dahulu memang menjadi tempat membuang hama. Pesta Dadung diakhiri dengan tarian oleh beberapa orang petani. Satu ungkapan kegembiraan untuk menghibur petani yang selama setahun bekerja memeras keringat, mengolah sawah dalam terik dan hujan. Menanam bibit pohon juga menjadi bagian dari Pesta Dadung. Satu bentuk keramahan dan kecintaan penduduk pada alam, yang sehari-hari menopang hidup mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;Tidak hanya berhenti di Pesta Dadung, keesokan harinya pusat kegiatan berpindah ke &lt;i&gt;Balong Girang&lt;/i&gt; (kolam alami di hulu air) Cigugur. Selepas tengah hari, penduduk pedesaan berkumpul dihibur oleh Nyiblung, musik yang dihasilkan dari tepukan-tepukan tangan di air kolam. Musik air yang dimainkan oleh tangan pemainnya dan dilombakan oleh warga setempat terdengar &lt;i&gt;berdebum&lt;/i&gt; riuh rendah. Gelak tawa, sorak-sorai suara dan tepuk tangan penonton berpadu dengan ramainya suara-suara musik air.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;"&gt;Hari-hari berikutnya selama sepekan sebelum prosesi puncak upacara adat seren taun, biasanya diadakan atraksi atau pegelaran kesenian tradisonal dari beragam daerah di Jawa Barat seperti (Seni Jentreng Tarawangsa Sumedang Larang, Ronggeng Gunung dari Ciamis, Angklung Baduy dari Baduy atau Kanekes, Musik Rendo dan Beluk dari Baduy, Gending Karesmen atau sendar tari, tembang klasik Sunda dan sebagainya). Pada siang dan sore hari selama sepekan itu juga suka diadakan pameran berbagai hasil kerajinan masyarakat daerah berupa, batik, anyaman, ukiran serta sajian makanan tradisional khas Cigugur seperti peuyeum ketan (tape ketan), gemblong(sejenis keripik singkong) dan sebagainya. Di sela-sela kegiatan berbagai pegelaran seni tradisonal dan pameran seni tersebut juga suka diadakan dialog antar masyarakat adat, agam dan kepercayaan yang umumnya mengupas tentang permasalahan sosial dan budaya yang dialami di masing-masing daerah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;Dialog itu biasanya juga berlangsung dalam suasana hangat kekeluargaan, saling berbagai pengalaman dan saling membantu mencari solusi untuk disikapi bersama-sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;Malam sebelum pelaksanaan upacara Seren Taun, biasanya juga diadakan upacara ritual adat ngareremokeun dari masyarakat Kanekes, ritual lagu-lagu dari masyarakat Dayak Losarang Indramayu dan diakhiri dengan tari Badaya Nyi Pwah Aci Sang Hyang Sri oleh penari wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pagi hari tanggal 22 Rayagung tahun Saka Sunda, seiring dengan terbitnya sang fajar dimulailah prosesi puncak tradisi upacara Adat Seren Taun. Upacara dimulai dengan gempitanya alunan musik goong renteng sebagai pertanda bahwa prosesi upacara adat akan segera dimulai. Alunan musik goong renteng tersebut mengalun bergema seolah menyiratkan suasana kegembiraan warga adat Cigugur untuk memulai pesta adat agrarisnya. Setelah itu terdengar alunan musik kecapi suling melantunkan lagu rajah bubuka yang diiringi penuturan pembawa acara dengan lagam puisi menjelaskan makna singkat tentang maksud penyelenggaraan upacara adat Seren Taun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Selanjutnya atraksi pergelaran angklung Baduy yang dimainkan oleh sekitar sepuluh orang suku Baduy. Seni angklung Baduy pun seperti biasa dilakukan di masyarakat baduy/kanekes dalam pesta panen adat berlangsung. Kemudian diteruskan dengan pesembahan tari buyung sebagai tarian kreasi tradisional khas Cigugur yang ditarikan oleh belasan wanoja (gadis-gadis) Cigugur. Formasi para penari bergerak dari berbbagi arah penjuru mata angin sesuai dengan masing-masing rombongan prosesi upacara. Tarian buyung ini menyiratkan makna “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Selesai pergelaran tari buyung kemudian acara dilanjutkan dengan pergelaran angklung buncis dari Cigugur yang dipergelarkan oleh ratusan pemuda Cigugur sambiol menabuh angklung dan reog atau dog-dog (sejenis alat tabuh berupa kendang berbagai ukuran yang hanya ditutupi kulit binatang pada satu sisi lingkaran kayunya). Bersamaan dengan ditabuhnya alat musik angklung buncis dan reog ini dipergelarkan tarian formasi panji-panji warna-warni oleh para pemuda juga mengikuti alun musik yang bergema dan bergemuruh itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Setelah berakhirnya pergelaran musik angklung buncis yang datang atau bergerak dari berbagai penjuru arah mata angin itu,kemudian prosesi upacara berupa ngajayak. Dimana dari masing-masing penjuru tadi bergerak serombongan lulugu dan muda-mudi berpasangan (laki-laki dan perempuan) sejumlah sebelas pasang membawa hasil bumi dalam tampah anyaman bambu. Biasanya gadis-gadis perempuan yang membawa hasil bumi berkebaya putih dan berkain batik rereng dan dipayungi oleh payung janur oleh para pemudanya berpakain baju takwa putih, celana hitam dan berdodot&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kain batik pula. Rombongan sebelas pasang muda-mudi pembawa hasil bumi dari berbagai penjuru tadi diringi dari belakang oleh rombongan ibu-ibu membawa padi ditampah atau disimpan di tampah dan di bawa di atas kepala (bhs. Sunda= disuhun), dan dibelakang ibu-ibu terdapat bapak-bapak yang memikul beras dan hasil bumi lainnya (buah-buahan dan umbi-umbian) dengan alat ­rengkong, dongdang dan jampanan. Rombongan ibu-ibu mememaki baju kebaya koko putih dan berkain sinjang batik, sementara bapak-bapak berpakaian kampret hitam-hitam dan berikat kepala kain batik berpola umumnya tutup liwet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Prosesi dari semua rombongan upacara itu bergerak diiringi oleh gamelan goong renteng bergerak masuk ke ruang Pendopo Gdeung Paseban Tri Panca Tunggal. Selanjutnya hasil bumi yang dibawa lulugu dan sebelas pasang muda-mudi itu secaar bergiliran dipersembahkan dan diterimakan kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh berbagai gama dan kepercayaan, dan tokoh aparat pemerintahan. Sementara rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak bergerak langsung ke tempat penumbukan padi atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;panutuan. Ketika prosesi penerimaan hasil bumi diterima oleh para tokoh masyarakat dan aparat tadi, alunan musik gamelan bernama goong S imonggang sayup-sayup merdu terdengar mengiringi alunan tembang-tembang atau lagu-lagu babarit (kidung buhun) yang dinyanyikan oleh rampak sekar (paduan suara) orang-orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Klimaks dari puncak upacara seren taun ini adalah sambutan-sambutan tokoh Adat Cigugur (Pangeran Djati Kusumah, cucu Pangeran Madrais), tokoh aparat pemerintahan dan perwakilan dari lembaga nasional atau dunia yang kebetulan hadir pada waktu itu. Kemudian termasuk doa bersama dari masing-masing perwakilan tokoh agama dan kepercayaan sebagai wujud Ketunggalan dalam kebhinekaan dalam bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selanjutnya prosesi bertahap berakhir ketika para tokoh dan pejabat memasuki area penumbukan padi dan menumbuk padi bersama untuk kemudian diikuti oleh seluruh warga yang mengikuti keseluruhan upacara adat seren taun itu. Sebagai tambahan penjelasan bahwa biasanya padi yang ditumbuk oleh masyarakat secara masal dalam puncak akhir proses upacara adat seren Taun itu sekitar 20 kwintal padi, sedangkan 2 kwintal padi lainnya di simpan di lumbung padi dan dibagikan ke para warga yang hadir dan petani dalam bentuk wayang-wayangan padi. Keseluruhan upacara berlangsung sejak pagi sampai sore hari.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Eras Light ITC&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;" align="center"&gt;~~~~~&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-3313354381691556708?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/3313354381691556708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=3313354381691556708' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3313354381691556708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3313354381691556708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/tradisi-upacara-seren-taun-di-cigugur_08.html' title='Tradisi Upacara Seren Taun di Cigugur-Kuningan'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-4900464371288613030</id><published>2009-01-08T01:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:20:30.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disarikan dari buah pemikiran Pangeran Jatikusumah'/><title type='text'>“Kebebasan Berkeyakinan dalam Konteks Masa Depan Kebangsaan Indonesia”</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kebebasan pada pengertian lain bisa berarti kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud adalah suatu cita-cita nan luhur atas sebuah kebebasan dari suatu kondisi yang mengekang, keterkungkungan, pendiskriminasian, ketertindasan atau keterjajahan. Kalaulah dikaitkan dengan hakekat kehidupan manusia, ada yang mengatakan bahwa seorang anak manusia lahir ke dunia adalah merupakan pribadi yang bebas. Karena anak manusia yang terlahir tersebut tidak pernah berpikir akan terlahir dari suku mana, ras mana, bangsa mana, kelas sosial mana, agama apa bahkan bebas dari keharusan untuk tidak beragama sekalipun. Ada kalimat yang menyebutkan bahwa;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 62.95pt 0.0001pt 45.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ &lt;i&gt;Manusia ditakdirkan lahir berbeda-beda. Seseorang tidak dapat memilih dari ibu-bapak, suku, latar belakang sosial atau bangsa mana ia akan lahir.Perbedaan itu tidaklah memberi hak kepada siapapun untuk melakukan diskriminasi hanya karena asal-usul seseorang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 62.95pt 0.0001pt 45.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pembukaan UUD 1945 menyebutkan diantaranya : “kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Kemerdekaan yang direbut para pahlawan bangsa adalah kebebasan atau kemerdekaan dari kolonialisasi penjajah bangsa asing pada masa itu. Kebebasan atau perjuangan kemerdekaan pasca revolusi kemerdekaan dan selanjutnya adalah perjuangan kebebasan sebagai suatu orientasi kemerdekaan dari keterkungkungan akan “kekuasaan atau pengaruh bangsa dan ideologi lain” yang tidak sejalan dengan Cita-Cita atau amanat Proklamasi Kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kebebasan berkeyakinan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt; dalam pandangan umum, biasanya mengasumsikan terhadap kebebasan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau kebebasan beragama. Padahal “pesan yang tersirat” dari kebebasan berkeyakinan dimaksud adalah selain kebebasan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau kebebasan beragama, juga kebebasan berkeyakinan sebagai individu yang berkepribadian dan berkesadaran sebagai manusia dengan segenap cara dan cirinya. Selain itu juga kebebasan berkeyakinan selaku individu yang berbangsa atau memiliki kesadaran berbangsa. Singkatnya bahwa &lt;b&gt;kebebasan berkeyakinan&lt;/b&gt; yang dimaksud adalah kebebasan untuk yakin terhadap pribadinya sebagai manusia dan bangsa dengan cara dan cirinya dan kebebasan berkeyakinan untuk percaya dan sadar akan kekuasaan di luar kehendak sdan kekuasaan manusia itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dua konsep yang berkaitan antara “kebebasan” dan “berkeyakinan” dengan pemaknaan tadi, sehingga memunculkan suatu frase “kebebasan berkeyakinan”, tentunya menimbulkan pertanyaan besar sebelum berlanjut pada kata atau kalimat selanjutnya pada judul tersebut di atas. Pertama; Apakah ada ketidakbebasan dalam berkeyakinan ? Kalaulah ada mengapa bisa terjadi demikian ? Atau mengapa orang tidak bebas berkeyakinan terhadap “Tuhan atau Sesuatu yang diyakininya” sebagai ekspresi identitas kebudayaan dan kebangsaannya (termasuk sukubangsa) ? Siapa atau apa yang menyebabkan ketidakbebasan berkeyakinan tersebut ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Kebangsaan yang berasal kata dari bangsa adalah suatu kondisi suatu bangsa yang dirasakan atau dimaknai dari kesadaran individu. Sejauhmana individu itu mampu memaknai dan menyadari kebangsaannya, maka sejauhmana pula individu tersebut menjaga dan memperjuangkan kehormatan kebangsaannya itu. Karena kesadaran dalam memperjuangkan kebangsaan oleh individu juga termasuk kesadaran individu manusia atas kepercayaan terhadap “Tuhan” yang menciptakannya menjadi bangsa tersebut. Melupakan aspek kebangsaan dalam perjuangan hidup individu manusia manapun adalah suatu sikap yang tidak mencerminkan keyakinan seseorang yang berkepercayaan terhadap Tuhan yang diyakininya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Indonesia adalah satu bangsa untuk semua suku bangsa dan bangsa yang ada dan hidup di Bumi Nusantara. Semua suku bangsa memiliki kebebasan berkebudayaan demi kemajuan Indonesia yang dimiliki bersama itu. Aspek berkebudayaan di dalamnya terkandung aspek religius atau aspek berkepercayaan terhadap “Tuhan” yang diyakininya. Kalaulah kita merujuk pada keanekaragaman kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara, Indonesia Tercinta, berarti kita akan melihat keanekaragaman berkepercayaan terhadap Tuhan dengan segala ekpresi budaya spiritual dalam berbagai ritual yang dilakukannya. Kesemua kehidupan berkepercayaan itu kemudian dijadikan landasan bersama sebagai bangsa Indonesia dalam kerangka sistem nilai kepercayaan bersama terhadap Tuhan Yang Maha Esa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Pengingkaran apalagi pendiskriminasian terhadap suatu keyakinan atau kepercayaan yang hidup dan berkembang di Bumi Nusantara, Indonesia Tercinta, sesungguhnya adalah sebagai sikap individu yang tidak percaya terhadap Tuhan yang diyakininya itu dan menolak kemanusiaan dan kebangsaanya sendiri. Lebih lugas bisa dikatakan bahwa sikap individu atau kelompok yang menafikan, mendiskriminasikan atau menjadikan tidak bebasnya individu atau masyarakat lain dalam berkepercayaan terhadap Tuhan yang diyakininya dengan segenap aspek ritual dan spritualnnya, adalah sikap invidividu atau kelompok yang tidak berperikemanusiaan dan berjiwa kebangsaan Indonesia. Orang atau individu dan kelompok yang bersikap demikian bisa dikatakan sebagai “penjajah” bagi bangsanya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sebagai simpulan bahwa selama ada upaya dan perjuangan untuk “kebebasan berkeyakinan” berarti masih adanya “penjajahan” dalam berkeyakinan itu sendiri. Baik penjajahan terhadap pribadi manusia, terhadap bangsa dan kebangsaanya serta terhadap kepercayaan terhadap Tuhan yang diyakininya. Selanjutnya bahwa Kebebasan Berkeyakinan dalam konteks Masa Depan Kebangsaan Indonesia adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Keadaan dimana terbangunnya kesadaran individu sebagai      manusia yang harus berperikemanusiaan dengan segenap cara dan cirinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tumbuhnya kesadaran berkebangsaan Indonesia yang Bhinneka      Tunggal Ika dalam berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut      budaya spiritual dan keyakinan dari masing-masing kepercayaan yang      dianutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Suatu kondisi dimana berkeyakinan bagi setiap warga bangsa Indonesia adalah berkeyakinan yang saling memerdekakan keyakinan satu dengan lainnya untuk bersama-sama mewujudkan kedamaian di Nusantara dan dunia pada umumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Rahayu Bangsaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Mulya Bangsaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Indonesia Tanah Air Bhinneka Tunggal Ika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Hotel Golden, Jakarta, 03 Agustus 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-4900464371288613030?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/4900464371288613030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=4900464371288613030' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4900464371288613030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4900464371288613030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/kebebasan-berkeyakinan-dalam-konteks.html' title='“Kebebasan Berkeyakinan dalam Konteks Masa Depan Kebangsaan Indonesia”'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-347379573565629023</id><published>2009-01-08T01:03:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:16:09.804-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disampaikan dalam pembekalan Materi Budaya'/><title type='text'>SENI TRADISIONAL DAN MASYARAKAT SUNDA (versi rangkuman)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 50pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Tumbuh dan berkembangnya suatu kesenian,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dalam dinamika sosial budaya masyarakat menghadapi perkembangan jaman, akan sangat tergantung pada kreator seni atau seniman dan juga apresiasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat pendukungnya. Menurut berbagai catatan, masyarakat Jawa Barat yang &lt;i&gt;nota bene&lt;/i&gt; umumnya berbasiskan budaya Sunda, memiliki kurang lebih 300 jenis kesenian yang tersebar di berbagai kota/kabupaten&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;. Dari kurang lebih 300 jenis kesenian yang pernah hidup itu diantaranya ada yang sedang dalam kondisi “sekarat awal”, “sekarat akhir” atau bahkan ada yang sudah hilang sama sekali. Pasang surut itu dilatarbelakangi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Karena karya seni berasal dari “rahim budaya suatu masyarakat baik langsung maupun tidak langsung”, maka perubahan, pasang surut dan tenggelamnya karya seni itu bergantung dari perubahan, pasang surut dan tenggelamnya ciri-ciri budaya kelompok masyarakat bersangkutan. Dengan demikian pula seni tidak bisa sekedar dipandang sebagai &lt;i&gt;L’art pour l’art&lt;/i&gt; atau seni untuk seni tetapi seni untuk pelestarian nilai budaya bangsa, bahkan dalam bentuknya yang lain, kesenian (terutama seni tradisional) dapat dijadikan sebagai alat ketahanan budaya bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 50pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Mengenal suatu tradisi kesenian pada masyarakat Sunda, akan berkaitan dengan pengenalan jenis-jenis seni, persebaran dan wilayah masyarakat pengguna, asal-usul dan sejarah perkembangannya, bentuk pertunjukkannya, alat-alat musik yang dipergunakannya, jenis-jenis lagu yang dimiliki, dan juga lingkungan masyarakat tempat berbagai jenis kesenian tersebut tumbuh dan berkembang. Termasuk mengetahui kreatifitas masyarakat dalam menumbuhkembangkan berbagai jenis kesenian tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: -20pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Britannic Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Britannic Bold&amp;quot;;"&gt;Tradisi Seni dan Karya Seni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: -20pt; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 50pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Manusia pada umumnya dan seorang seniman pada khususnya dilahirkan pada lingkungan yang telah hidup suatu budaya yang di dalamnya terdapat apa yang dinamai “seni masyarakat setempat” (seni tradisi atau seni daerah). Secara sadar dalam perkembangan adaptasinya terhadap lingkungan sosial budayanya, individu termasuk seniman tersebut mulai belajar menghayati dan memahami apa yang disebut seni oleh masyarakatnya. Penyesuaian atau &lt;i&gt;conditioning&lt;/i&gt; ini akan menyebabkan mereka menyadari apa dan bagaimana seni itu. Dalam hal ini mereka belajar dari tradisi seni masyarakatnya, mengapresiasinya sehingga seni kadang tidak sekadar sebagai “barang tontonan” tetapi sekaligus sebagai “seperangkat tuntunan” atau sistem nilai budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Menurut &lt;i&gt;Pi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Ö&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;tr Sztompka&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt; (2004) bahwa tradisi dalam pengertian sempit berarti bagian-bagian warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja yakni yang tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih kuat ikatannya dengan kehidupan lalu. Dilihat dari aspek benda material yang menunjukkan dan mengingatkan kaitan khususnya dengan kehidupan masa lalu. Kemunculan tradisi melalui dua cara yaitu ; pertama, muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan kadang tidak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak (istilah untuk tradisi ini adalah &lt;i&gt;the litlle tradition&lt;/i&gt; atau tradisi kecil atau tradisi rakyat), kedua, muncul dari atas melalui mekanisme paksaaan dari penguasa, raja dan sebagainya (istilah untuk tradisi ini adalah &lt;i&gt;the great tradition&lt;/i&gt; atau tradisi agung atau tradisi klasik).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tradisi seni merupakan sekumpulan warisan mengenai apa dan bagaimana seni itu berdasarkan pemahaman masyarakatnya. Kumpulan warisan seni dapat dipelajari lewat pemahaman sejarah seni dan penghayatan langsung berbagai karya seni warisan tersebut. Meskipun kekayaan warisan karya seni tetap yang itu-itu juga, setiap generasi akan memilih karya mana saja yang “benar-benar bernilai seni”. Sebuah karya seni yang pada generasi sebelumnya tidak begitu dihargai sebagai karya seni yang bermutu, pada generasi berikutnya bisa saja justru dianggap karya seni bernilai unggul. Jadi tidak semua warisan karya seni suatu masyarakat akan dengan sendirinya disebut dan dihargai sebagai ‘tradisi’-nya. Tradisi seni merupakan tradisi terpilih, tradisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selektif berdasarkan penghargaan nilai-nilai seni suatu generasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Karya seni dalam masyarakat terdiri dari tiga kategori dilihat dari proses penciptaannya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 73pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Karya seni yang setia pada nilai-nilai tradisi. Karya seni yang dianggap lazim oleh kalangan masyarakatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 73pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Karya seni yang bersifat tradisi tetapi sudah muncul sikap kritis. Karya seni yang memunculkan secara kritis nilai-niai tradisi masyarakat yang tidak begitu banyak diketahui oleh khalayak. Karya demikian memiliki nilai lebih, karena menunjukkan nilai-nilai baru dari sebuah tradisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 73pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Karya seni yang sama sekali menolak tradisi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karya seni semacam ini dalam banyak hal bertolak belakang dengan tradisi dan nilai-nilai seni yang selama ini dijunjung tinggi masyarakatnya. Kalau nilai-nilai seni yang diajarkan ini benar-benar “otentik”, maka ia akan dihargai sebagai karya agung dalam tradisi. Karya demikian itu merupakan “pohon” baru dalam khazanah “hutan tradisi seni” dan budaya masyarakatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: -20pt; line-height: 150%;"&gt;       &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EPILOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Britannic Bold&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Harapan ke depan bahwa generasi intelektual (mahasiswa unpad) khususnya anggota LISES UNPAD tidak melupakan pada akar budaya masing-masing “rahim budaya lokal”nya ( misalnya : kebudayaan Sunda). Ini penting sebagai dasar pembentukan karakter bangsa dan pembentukan watak budi luhur yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pada gilirannya LISES UNPAD tidak sekedar mendidik dan menciptakan karya dan kreator seni tradisional dan kreasi Sunda, tapi lebih dari itu menciptakan “&lt;i&gt;ponggawa-ponggawi &lt;/i&gt;budaya Sunda” yang berwawasan multi keilmuan dan cinta terhadap “&lt;i&gt;lemah caina dan wandana sorangan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Mengenal seni tradisional tidak berarti kita harus terjebak pada ideologis tradisionalisme buta. Agaknya sikap ideologi yang paling pantas terhadap tradisi khususnya tradisi seni (tradisional) adalah tradisi tang berpandangan kritis terhadap tradisionalisme itu sendiri. Pandangan kritis dimaksud adalah bersikap analitis dan skeptis terhadap manfaat dan mudharatnya tradisi di setiap kasus konkret, dengan memerhatikan kadar dan lingkungan historis pengaruhnya. Sikap semacam ini menghindarkan diri dari taklid buta terhadap tradisi secara dogmatis dengan tidak mengabaikan peran tradisi termasuk seni tradisi yang menguntungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: justify; text-indent: 35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: center; text-indent: 35pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;“..&lt;b&gt;&lt;i&gt;geus lain wayahna.. Jati kudu kasilih ku junti&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: center; text-indent: 35pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Tapi wayahna Kujang tembong Pamorna, Sumirat tembong Srangengena..nyaangan sa Alam Buwana..”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 20pt; text-align: center; text-indent: 35pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;Cag. Rampes..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Agency FB&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Agency FB&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Agency FB&amp;quot;;"&gt; Deskeripsi Kesenian Jawa Barat, Ganjar Kurnia dan Arthur S. Nalan dkk., 2003.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-347379573565629023?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/347379573565629023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=347379573565629023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/347379573565629023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/347379573565629023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/seni-tradisional-dan-masyarakat-sunda.html' title='SENI TRADISIONAL DAN MASYARAKAT SUNDA (versi rangkuman)'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-568041597331673551</id><published>2009-01-08T00:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:01:44.045-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegelisahan empirik atas ketidakberdayaan generasi muda dalam menjaga budaya bangsa'/><title type='text'>Ki Sunda Menyikapi Tantangan Jaman</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;"&gt;Melihat perkembangan kehidupan bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terutama dari persaingan budaya (kalaupun tidak dikatakan perang antar budaya seperti dikatakan oleh Samuel Hattington sebagai “&lt;i style=""&gt;culture war&lt;/i&gt;”) semakin lama semakin ”seru”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Alat-alat propaganda persaingan budaya telah menjadi semacam ”alat perang” baik disadari ataupun tidak disadari oleh masyarakat penikmat media elektronik. Berbagai media elektronik seperti televisi, radio, jaringan televisi yang mendunia, internet, hp multi media serta produk-produk yang dihasilkannya seperti berbagai tayangan iklan produk-produk barang, film, bintang film, musik, fashion dan sebagainya seolah menjadi ”kebutuhan” untuk terus bersaing baik dengan sesama maupun ”orang lain”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sangatlah tipis membedakan batas budaya pada era kekinian, ketika masyarakat di pedesaan sudah menggandrungi &lt;i style=""&gt;fried chicken&lt;/i&gt; yang sama dikonsumsi dengan warga masyarakat di perkotaam bahkan di luar negeri. Susah membedakan ciri budaya fisik kaum bule dengan kaum ”penggila mode” yang terbuai untuk selalu tampil berkulit putih, berambut pirang atau berwarna berpakaian merek terkenal dan ”bergaya funky”. Sudah tidak jelas lagi antara si Uneh dan si Margareth atau antara si Ujang dengan si Stephen. Ini kalau kita lihat dari budaya dominan ”&lt;i style=""&gt;western&lt;/i&gt;” yang lebih mudah membuai melalui mode dan iklan televisi. Namun tidak hanya ”&lt;i style=""&gt;western culture&lt;/i&gt;”, budaya bangsa lain pun yang masuk melalui syiar keagamaan atau pendekatan ekonomi sehingga seolah kita tidak bisa membedakan antara ”ahmad sahid saefullah” itu adalah orang Bandung ataukah orang Timur Tengah, atau Siti Mutmainah orang Padasuka dengan orang Pakistan dilihat dari penampilan ”budaya materi’ yang dipakainya. Hal itu menjadi wajar bahkan telah ”membudaya”. Itulah sempilan wajah ”Ki Sunda kini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suatu ketika di masa kini saat berjalan-jalan di ruang-ruang pedalaman perkampungan, jarang dilihat anak-anak bermain &lt;i style=""&gt;congklak&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;dam-daman, maen kaleci atai pinci, &lt;/i&gt;dan ”&lt;i style=""&gt;kaulinan budak lembur&lt;/i&gt;” lainnya. Semua tergantikan dengan playstation, sega dan game-game anak-anak di mall. Padahal ”kaulinan barudak lembur” mengandung unsur budaya setempat baik dari unsur seni suara, musik, strategi, kebersamaan dan merangsang kreativitas anak. Selain tentunya anak-anak dikenalkan pada lingkungan alamnya dan ”murah meriah” kalau dilihat dari sisi ekonomi. Tidak jarang juga adanya kasus pemerkosaan antar anak-anak sebagai dampak dari ”terbukanya” ruang budaya luar yang tidak layak dikonsumsi oleh perkembangan usia anak-anak seperti dampak dari sinetron yang tidak mendidik, termasuk film-film dan VCD khusus orang dewasa yang dijual bebas sampai ke pelosok perdesaan atau perkampungan. Nampak juga adanya perilaku anak-anak yang ”dianggap” kurang sopan ketika mereka berkomunikasi atau bersikap baik sesama bahkan dengan orang yang lebih tua, yang katanya tiu sebagai dampak demokrasi atau kebebasan berpendapat (?). Sehingga bilamana guru, orang tua atau orang yang lebih tua menegur, mensihati, memperingatkan anak-anak yang berperilaku ”menyimpang” dengan norma dan etika masyarakat setempat maka tidak jarang anak-anak itu berani menentang atau ”&lt;i style=""&gt;nembalan&lt;/i&gt;” sebelum betul-betul mencerna atau mendengarkan (Bhs Sunda; &lt;i style=""&gt;ngaregepkeun&lt;/i&gt;). Ironisnya orang tua dari anak yang ”&lt;i style=""&gt;nembalan&lt;/i&gt;” itu tidak marah atau tidak menganggap perilaku anaknya tesebut sebagai perilaku tidak sopan atau kurang ajar, tetapi sebagai sikap ”keterbukaan” dan ”baik dan cerdas”. Bahkan bilamana anak tersebut ada yang menegur untuk memeperingatkan bahwa perilaku itu tidak baik atau kurang sopan, maka orang tuanya tidak terima dengan alasan ”yang gak jelas” atau dianggap bahwa sikap anaknya itu gak perlu dipermasalahkan (”namanya juga anak-anak”). Jadi di satu sisi anak-anak sudah ”tercekoki” dengan dunia permainan ”budaya luar” yang serba ”individualis dan konsumtif”, seperti game di hp yang menyebabkan anak asik sendiri dan game-game di mall serta playstation yang tidak sedikit ”gocek” harus dikeluarkan yang memicu ”adrenalin” kepuasaan sesaat. Di satu pihak ”ideologi” perilaku ”gaul” yang salah karena dampak tayangan televisi dan lingkungan yang sudah ”terkontaminasi budaya luar” yang tidak sesuai dengan budaya setempat menjadikan generasi muda sejak anak-anak telah ”terasuki &lt;i style=""&gt;enemy culture&lt;/i&gt;”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhir-akhir ini kalau kita menyimak berbagai tayangan televisi, cenderung menayangkan ”budaya kekerasan” seperti pembunuhan, konflik, pemerkosaan, penggusuran rumah dan pedagang kaki lima dan sebagainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seolah tayang tersebut merupakan tayangan yang memiliki rating penyiaran yang tinggi dan ”perilaku tayangan” tersebut seperti menu keseharian pemirsa. Sementara di lain pihak adanya ”tayangan budaya daerah” hanya menjadi pemanis rangkaian berbagai liputan News atau bahkan kalaupun ditayangkan secara fulltime ditempatkan pada jam malam dimana orang sudah banyak yang terlelap di peraduannya masing-masing. Pertanyaannya ”niat gak sih” televisi menayangkan ”nuansa budaya daerah yang memiliki nilai luhur” tersebut ? ataukah hanya sekedar untuk dicap bahwa televisi mereka sebagai ”televisi Indonesia” sehingga ”yang penting sekedar ada” tayangan budaya daerah itu ? mengapa juga bukannya tayangan yang menampilkan kedamaian, kebersamaan dalam kebhinekaan, toleransi antara budaya, agama dan masyarakat yang berbeda yang harus ditonjolkan dalam tayangan TV. Kadang alasan yang menyanggah untuk mendukung pembenaran alasan penayangan ”kekerasan sebagai menu utama” adalah karena informasi yang dianggap ”berita” justru adalah yang ”menyimpang, aneh” dari kehidupan sehari-hari atau norma-norma yang tumbuh di masyarakat. Selain itu sering terdapat argmentasi bahwa tayangan budaya daerah atau lokal ”dianggap tidak laku” atau ”tidak disukai” pasar. Sehingga berdampak tidak ada pemasukan iklan atau ratingnya rendah, yang ujung-ujungnya merugikan dunia pertelevisian dalam ”persaingan bisnis informasi dan teknologi komunikasi dalam media elektronik”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa penjelasan permasalahan kekinian yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia di atas, tentunya juga terjadi dalam masyarakat Ki Sunda (etnis Sunda). Karena tentunya sekelumit gambaran permasalahan di atas lebih diungkap dari realita kehidupan lingkungan masyarakat kultur Sunda. Barangkali banyak tanggapan yang berbeda menyikapi sekelumit fenomena tersebut, hanya saja dalam kaitan dengan pentingnya mempertahankan eksistensi Ki Sunda dalam kesadaran ”persaingan budaya” masa kini belum secara sungguh-sungguh dan serempak disikapi baik oleh kalangan masyarakat sendiri dan para elite dan tokoh masyarakat Sunda sendiri. Adanya usaha yang sedang dan sudah dilakukan untuk menyikapi tantangan gambaran feomena di atas dalam upaya ”membangun Ki Sunda” oleh beberapa tokoh, kalangan masyarakat baik masyarakat adat dan organisasi formal dan informal belum menampakan hasil yang memuaskan berbagai pihak. Adanya pengghargaan anugerah budaya Sunda kepada beberapa tokoh seniman dan budayawan sebatas ceremonial belaka. Adanya perlombaan atau pasanggiri MOKA (Mojang Jajaka), pasanggiri kesenian Sunda dan pasanggiri budaya Sunda lainnya hanya untuk popularitas individu atau organisasi penyelenggara semata. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Adanya diskusi dan seminar bertemakan ”kasundaan” hanya sebatas seminar, sesudah itu ”menguap” tidak ada tidak lanjut atau implementasi yang jelas. Organisasi-organisasi yang pada awal pendiriannya disemangati dengan jiwa patriotis perjuangan Ki Sunda menjadi ”melempem” tidak ada perkembangan hasil gerak organisasi yang akumulatif, bahkan cenderung ”&lt;i style=""&gt;hirup teu neut, paeh teu hos&lt;/i&gt;”. Hal ini terbukti dari keanggotaan dari organisasi yang kian menyusut, padahal suatu gerka organisasi formal ditentukan oleh banyaknya sumber daya manusia yang didukung oleh kualitas dari sumber daya yang dibentuk dalam pengkaderan oleh masing-masing organisasi tersebut. Kesenjangan antara golongan intelektual Ki Sunda generasi tua atau ”senior” dengan yang muda atau ”yunior” tidak menampakkan kondisi yang mengarah pada ”kebersamaan” dan atau saling berbagi kesempatan berkiprah. Bahkan tidak jarang budaya feodalistik bukan hanya terjadi pada masa kerajaan kuno masa lalu tapi juga terjadi dalam kehidupan urban atau perkotaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Galliard BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Barangkali ada beberapa solusi dalam menyikapi maslah di atas dalam kaitan dengan ”menerapkan Ki Sunda” pada era kekinian dan masa datang. Meski mungkin solusi-solusi dimaksud berangkat dari hal-hal yang kecil, sederhana dan sudah ada yang menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah metoda mengenal ”&lt;i style=""&gt;saha kuring, kuring urang mana, rek kamana kuring kudu jeung kuring kudu kumaha&lt;/i&gt;”. Melihat metode tersebut, sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga ”urang Sunda”. Bahkan seolah tidak dianggap sesuatu yang dipentingkan dari metode ungkapan tersebut. Padahal kalau kita (urang Sunda khususnya) betul-betul meresapi dan merenungkan secara mendalam atau ”&lt;i style=""&gt;ngalenyepan&lt;/i&gt;” dari ungkapan metode tersebut tidaklah sulit hanya mungkin sulit dalam mempraktekkan dalam ”konteks persaingan budaya” saat ini. Kesulitan itu dilantarankan karena kebanyakan ”urang Sunda” sudah terjebak pada kondisi ”keglamouran budaya luar” seperti ungkapan ”&lt;i style=""&gt;jati kasilih ku junti&lt;/i&gt;”. Hanya saja sejauhmana ”urang Sunda” itu menyadari hal itu belum ada penelitian yang pasti. Hal ini hanya berupa asumsi yang berangkat dari pengamatan sehari-hari bahwasannya ”urang Sunda” sebagai bagian dari Ki Sunda sudah mengutamakan ”gengsi, trendi, necis, gaul, modern, dan agamis” dibandingkan dengan upaya untuk betul-betul ”&lt;i style=""&gt;ngalenyepan&lt;/i&gt;” metode dari ungakapan sederhana dan umum di atas. Mungkin mereka yang bersikap dan berprasangka demikian hanya melihat Ki Sunda dengan ”kacamata yang salah”. Mungkin saja mereka sudah mengerti benar, hanya saja susah memulai darimana dan harus bagaimana. Mungkin saja mereka tahu hanya saja tidak berani menampakkan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-568041597331673551?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/568041597331673551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=568041597331673551' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/568041597331673551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/568041597331673551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/ki-sunda-menyikapi-tantangan-jaman.html' title='Ki Sunda Menyikapi Tantangan Jaman'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-5416237384260448600</id><published>2009-01-08T00:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T00:53:25.127-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guligah katresnan sanajan tacan karuhan'/><title type='text'>MAYANG TRI JAYA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;MAYANG TRI JAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Harita kuring nyungsi lumaku ka puseur nagri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nyoreang lampah nutur talatah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mancen pinasti purbajati yuda nagri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Paheuyeuk deudeuh meungkeut kapengkuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nyimpay batin muray sangka mapag garapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Teu sakajaba aya sareret sumirat duriat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Teu sakara-kara ngolebat papanden pupunden ati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Teu sangka tuwuh ligar rasa sirnarasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nu geus lawas ngolembar nyinglar ku lambak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Harita....teu kebat niat duriat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sanajan galagat mega rasa tresna lumungsur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sang dara da taya rumasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nyipat nyapit pepetit sora batin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nu jumerit meulit ati nu kapatri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ku suksma rasa dara nu eunteup nyanggreum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Wanci pinasti jadi kabukti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sang dara nyata mayang Tri Jaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Graha Murba palataran palaputra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di tutugan Giri Panglenyep&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Boa nu di boa-boa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jiga nu dijiga-jiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Natrat atra kasampak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mayang Tri Jaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sampeureun Jaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ayeuna Ligar mangkak dina mamaras Rasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;.................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;6 Desember 2008,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;Giri Salamet ”panglenyepan hate”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;BakerSignet BT&amp;quot;;"&gt;RKK. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-5416237384260448600?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/5416237384260448600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=5416237384260448600' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5416237384260448600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5416237384260448600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/mayang-tri-jaya.html' title='MAYANG TRI JAYA'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-7743091140668660718</id><published>2009-01-08T00:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T00:48:18.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='getering batin nu sumerep na acining pikir lan rasa'/><title type='text'>PALABUAN RATU</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Wayah sareupna sumiliwir angin sagara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Ngagupay mangsa mulang carita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Srangenge teuleum ngeueumkeun diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kasampak mega cekas rineka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sisi basisir lambak paudag-udag&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Gumuruh sagara maturan rasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bentang kumelip ngiceupan nu ngalanglang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Matapan di waruga jati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Lambak makplak sajajar ngagelar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pabalap nambagan karang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nu pageuh nanceb nurus bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Makuan wates sagara jeung patapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Wening ati buleud harepan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Deuk mikukuh talatah nu katunda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dina raga waruga nagara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dina rasa wiwaha manusa Sunda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Najan nyawang kumalangkang mangsana jaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Najan miang taya nu nanya kamana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Najan hariwang gumawang na tandang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Laratan baris disorang jeung dilanglang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Wayahna nu anggang kasorang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kaceluk ku tutur karuhun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ngajugjug ka palabuan ratu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nu dumuk Hyang rumuhun nu agung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Muga muka lawang saketeng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Muga megar wanda nu anyar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dibarung guruh galura sagara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Diwasuh ku lambak Ratu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Muga lumungsur raja tangtu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ngawaris wangsit pitutur laku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahung Arum Guntur Madu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahung Ratu Agung Tangtu Buwana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahung Prebu Jagat Sagara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahung Hyang Prebu Siliwangi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                             &lt;/span&gt;Rahyang Kujang Kajene&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Samudra Beach Hotel, 22 Januari 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-7743091140668660718?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/7743091140668660718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=7743091140668660718' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7743091140668660718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7743091140668660718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2009/01/palabuan-ratu.html' title='PALABUAN RATU'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-11839552784079533</id><published>2008-09-28T07:05:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T08:49:24.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untuk semua manusia yang punya hati dan perasaan'/><title type='text'>SATU KATA</title><content type='html'>hanya satu kata..&lt;br /&gt;tiada sempat terucap..&lt;br /&gt;walau sering bicara sampai lupa waktu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya satu kata..&lt;br /&gt;kembali karam di hati..&lt;br /&gt;walau sering bicara dan saling menyapa..&lt;br /&gt;dimanakah ku harus mencari...&lt;br /&gt;sebuah kata yang hilang..&lt;br /&gt;saat denganmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan banyak kata..&lt;br /&gt;ketika ingin bicara..&lt;br /&gt;tentang bara di dada dan asa di jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan ragu dan membisu..&lt;br /&gt;satu kata yang tak terucap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTA...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-11839552784079533?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/11839552784079533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=11839552784079533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/11839552784079533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/11839552784079533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/09/satu-kata.html' title='SATU KATA'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1672860464764612427</id><published>2008-09-03T00:44:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T01:08:46.851-07:00</updated><title type='text'>Bersila, Berpikir, Bertutur, dan Bersikap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/SL5A3ot8gJI/AAAAAAAAACQ/_DxOiSXaa7c/s1600-h/di+Kp+Naga-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/SL5A3ot8gJI/AAAAAAAAACQ/_DxOiSXaa7c/s320/di+Kp+Naga-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241698340872945810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;bersila adalah sikap paling nyaman dalam mendengar dan menerima dawuhan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1672860464764612427?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1672860464764612427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1672860464764612427' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1672860464764612427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1672860464764612427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/09/bersila-berpikir-bertutur-dan-bersikap.html' title='Bersila, Berpikir, Bertutur, dan Bersikap'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/SL5A3ot8gJI/AAAAAAAAACQ/_DxOiSXaa7c/s72-c/di+Kp+Naga-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-7351059754283028816</id><published>2008-07-19T21:15:00.000-07:00</published><updated>2008-08-02T06:40:11.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik terhadap kebijakan diskriminatif dalam pelayanan hak-hak sipil'/><title type='text'>UU ADMINDUK VS KAUM ADAT</title><content type='html'>UU Adminduk yang baru saja disahkan dalam tahun-tahun belakangan ini, mungkin pada dasarnya implisit akan melayani hak-hak sipil kaum penganut keyakinan non agama import, yaitu kaum penganut agama-agama adat, seperti sundawiwitan, kaharingan, pelebegu kaharingan, aluk tadolo dan agama-agama adat lainnya. Tapi kenyataannya masih bersifat diskriminatif bahkan menimbulkan polemik antara penganut keyakinan yang berdasar pada "organisasi formal yang memiliki AD/ART" atau lebih dikenal sebagai penghayat organisasi dengan penganut keyakinan adat yang berdasar pada lembaga adat yang jelas-jelas tidak memiliki AD/ART, dimana mereka suka dikategorikan sebagai penghayat perorangan. Polemik yang dilantarankan UU Adminduk yang diskriminatif ini, dipicu oleh beberapa tokoh penghayat organisasi yang dekat dengan kekuasaan dan mengamini kebijakan UU Adminduk yang dianggap lebih menguntungkan bagi pihak para penghayat organisasi. Padahal itu menunjukkan kebodohan mereka yang mau diperbudak dan terjebak oleh "trik" pemerintah dan kelompok elite politkus agama import yang sengaja untuk tidak memberi ruang yang bebas bagi kaum agama adat dan merkea kaum penghayat organisasi. para penghayat organisasi tidak sadar bahwa mereka adalah boneka-boneka yang diperalat untuk melanggengkan kekuasaan kaum agama import yang sewaktu-waktu dapat memberangus mereka. Atau lebih tepatnya membubarkan organisasi kepercayaan mereka yang ber-AD/ART itu, karena sewaktu-waktu bisa saja dianggap sebagai kelompok sesat dan sebagainya  oleh kaum agama import. Dibandingkan dengan ketidakmampuan para elite politikus agama impor yang tidak bisa membubarkan keyakinan adat yang berdasar pada lembaga adat yang sudah ada jauh sebelum negera ini berdiri bahkan jauh sebelum agama-gama impor itu mewabah di wilayah Indonesia. tapi mungkin itulah sidrom kekuasaan, terutama bagi kaum penghayat organisasi yang dalam istilah sunda itu baru saja "bobok manggih gorowong" dan lupa akan sejarah perjuangan mereka yang sudah jauh lebih lama kaum adat dibandingkan mereka. Bukankah itu sikap nyalip di tengah jalan ? bahan lebih ironis lagi ketika kaum penghayat organisasi mengatakan atau lebih tepatnya menyuruh kepada kaum adat untuk membuat organisasi pengahayat seperti mereka, karena kaum agama adat dicap oleh kaum penghayat organisasi adalah kaum animisme dan bukan kategori penghjayat. Upaya saran para kaum penghayat organisasi kepada kaum agama adat seperti itu dengan alasan kalau kauim agama adat mau mengikuti atau dilayani hak-hak sipilnya berdasarkan UU Adminduk itu. Selain itu kaum penghayat organisasi juga berpendapat bahwa tatacara perkawinan mereka bukan berdasar pada adat tetapi berdasarkan pada tatacara organisasi mereka. Apakah itu bukan merupakan pemikiran yang bodoh ? sementara kalau mengacu pada UU Perkawinan th 1974 bahwa justru perkawinan yang dianggap sah adalah bilamana mengacu berdasar pada hukum agama masing-masing dan atau hukum adat (bukan tatacara organisasi penghayat).&lt;br /&gt;Melihat kondisi polemik yang cukup tajam ini, maka sudah sepatutnya UU Adminduk direvisi atau kalau perlu diadakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;judicial review&lt;/span&gt; ke mahkamah konstititusi. karena kembali UU tersebut lebih banyak mengedapankan kepentingan golongan bukan kepentingan bersama yaitu antara kaum penghayat organisasi dan kaum agama adat atau penghayat perorangan atau penghayat adat yamg jelas lebih berakar, lebih banyak dan merupakan akar budaya bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-7351059754283028816?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/7351059754283028816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=7351059754283028816' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7351059754283028816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7351059754283028816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/07/uu-adminduk-vs-kaum-adat.html' title='UU ADMINDUK VS KAUM ADAT'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-4712103891245196839</id><published>2008-07-19T20:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-19T21:15:15.756-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik terhadap orientasi dan realita pembangunan bangsa'/><title type='text'>Pantas Pembangunan Nasional Gagal</title><content type='html'>Istilah membangun, kalau digunakan dalam secara harfiah dalam "membangun" rumah tentunya harus mempersiapkan segala sesuatunya. persiapan segala bahan baku, tenaga, modal, dan perenacanaan gambar atau disain rumah bagaimana yang akan dibangun. artinya membangun rumah kalau tidak mau gampang roboh atau berbetnuk yang menarik, nayman bagi yang menempati dan anggun bagiyang melihat adalah bukan pekerjaan gampang.&lt;br /&gt;Membangun bangsa atau membangun masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan jelas tidak mudah juga. apalagi kalau dikaitkan dengan membangun bangsa Indonesia yang beranekaragam kebudayaan. Dunia mana pun atau bangsa mana pun tidak akan mudah membangun bangsanya apalagi dari sumber daya manusia danbudaya yang demiukian kompleks dan beragam. salah satu kunci yang mungkin bisa menjadi dasar kemudahan dalm membangun bangsa ini adalah sejauhmana atau bagaimana orientasi membangun bangsa ini yang sesungguhnya dan senyatanya mengedepankan pembangunan atau pengembangan yang berakar pada nilai kultural masyarakat adat sebagai akar-akar budaya bangsa. karena itu adalah awal pijakan dan roh dari semua kultur bangsa yang sudah berkembang sekarang. dan kalau itu betul-betul diperhatikan maka orientasi pembanguna bangsa ini jelas akan dibawa kepa pembangunan seperti apa. nyatanya, ironis, bangsa ini telah membangun dengan melepaskan bahkan memberangus tatananakar-akar budaya bangsanya sendiri. omong besar kalau bangsa ini telah berhasil memajukan kebudayaan bangsa bahkan telah berhasil membangun atau mengembangkan kebudayaan bangsa. nyatanya kebudayaan bangsa (baca: budaya seni) hanya sebatas komoditi jualan atau pariwisata, tetapi tidak menyentuh dan mengakar pada dasar kebutuhan masyarakat adat pengusung budaya tersebut. dimana secara ekonomi mereka, kaua adat masih merupakan masyarakat yang tergolong miskin dipandang dari  sisi ekonomi. di bidang kesehatan merka belum betul-betul mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai karena para ahli medis atau ahli kesehatan masih banyak mengejar "usaha" di perkotaan yang dianggap lebih "basah" untuk lahan mencari uang. di bidang pendidikan, kaum adat tidak pernah diupayakan untuk mendapatkan pendidikan nasional yang layak, karena jelas mereka yang masih menganut keyakinan aaadat bagaimana pun tidak akan bisa lulus sekolaj selama tidak ada pendidikan keyakinannya dan hanya ada pendidikan kegamaan "import" yang dipaksakan masuk dalam kurikulum pendidikan nasional. artinya kaum adat dianggap animisme dan dinamisme dan harus belajar "agam-agam import" biar "mengenal Tuhan". apakah itu bukan berarti negara sudah melanggar HAM dalam bidang keyakinan, lantaran tidak adanya kurikulum pendidikan agama adat dalam kurikulum pendidikan. jadi saya pikir bukan masalah kaum adat tidak mau sekolah tetapi adalah kendala "software" kurikulum pendidikan nsaional juga harus dirombak agar bisa memberi ruang pendidikan terhadap kaum adat. dalm bidang pelayanan administrasi kenegaraan, kaum adat masih didiskriminasi karena mereka masih susah membuat KTP, akta kelahiran dan akta perkawinan. ini lagi-lagi dilantarankan mereka dalam kolom KTP dianggap tidak beragama, sehingga kolom agama mereka dikosongkan. sementara KTP bagi warga negara Indonesia merupakan "passward" untuk mengakses kebutuhan civiliztion lainnya. Artinya kalau masalah KTP dan akte perkawinan saja sulit, bagaimana membangun bangsa ke depan, sementara kebutuhan-kebutuhan mendasar sebagi hak-hak sivil bagi masyarakat kaum adat yang lebih besar masih terhambat, dan ini FAKTA !!!&lt;br /&gt;Kesimpulannya, menurut saya, bahwa pembangunan nasional telah GAGAL, karena mengedepankan kepentingan golongan "agama impor", kaum urban atau perkotaan saja yang hanya 20-30 persen dariapada penduduk Indonesia  yang 70-80 persen adalah kaum rural termasuk kaum adat. Sehingga wacana yang lebih tepat ke depan dalam membangun bangsa ini adalah bukan pembangunan nasional, tetapi mengedepankan pembangunan kultural dan kedaerahan sebagai soko dalam mewujudkan kesejehteraan bangsa Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-4712103891245196839?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/4712103891245196839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=4712103891245196839' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4712103891245196839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4712103891245196839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/07/pantas-pembangunan-nasional-gagal.html' title='Pantas Pembangunan Nasional Gagal'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-3830783375119779711</id><published>2008-06-26T21:22:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T22:46:33.897-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masihkah ada kepedulian diantara kita memaknai dan menggunakan khasanah budaya bangsa sebagai identitas kita'/><title type='text'>Batik dan Citra Diri Bangsa</title><content type='html'>Batik adalah salah satu budaya atau hasil budi dan daya kreatifitas seni bangsa Indonesia. Batik sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun (jaman kerajaan-kerajaan nusantara) yang lalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai ragam dan corak motif batik Indonesia yang telah diciptakan bahkan tidak sedikit motif-motif batik yang sudah terkubur dan entah dimana dokumentasi karyanya. tapi seiring dengan kreatifitas dan perkembangan jaman, maka batik pun berkembang ragam dan coraknya. Ada batik motif pesisir, pegunungan, golongan bangsawan, golongan rakyat umum (cacah atau wong cilik), batik untuk pegawai negeri, bati untuk pegawai hotel, batik keraton batik berdasarkan kedaerahan (solo, pekalongan, garutan, tasik, yogya, paseban ciguguran, dan sebagainya). Sedemikian luasnya pemanfaatan batik dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia menjadikan batik sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;Identitas selalu terkait dengan aspek jati diri. Jati diri tidak selamanya nampak, bahkan cenderung memang tidak nampak, tetapi suatu identitas adalah penampakan suatu jati diri sehingga sekaligus menjadi pencitraan individu atau kelompok bersangkutan. Batik yang cenderung menjadi jati diri seseorang baik disadari ataupun tidak disadari. Jati diri adalah salah satu penanda kepribadian yang tidak nampak antar individu tetapi dipentingkan dalam hubungan berperilaku. Batik sejauh ini sudah berhasil menjadi penanda, identitas dan sekaligus jatidiri individu, kelompok dan komunitas tertentu yang membedakannya dari individu, kelompok dan komunitas lainnya. Sehingga, kalaulah kita menyepakati dan mengetahui bahwa bati adalah hasil budaya dan buah karya luhur bangsa Indonesia, berarti batik sudah jelas merupakan identitas dan jatidiri bangsa Indonesia itu sendiri. Alangkah ironisnya ketika suatu saat pernah terjadi bahwa batik diklaim sebagai budaya atau hasil karya bangsa Malaysia. Ini artinya secara langsung atau tidak langsung telah terjadi pemberangusan dan penjajahan identitas bangsa. Ini artinya telah terjadi perampasan jatidiri bangsa Indonesia oleh bangsa lain. Kejadian itu bahkan tidak hanya terjadi terhadap batik saja bahkan pada beberapa hasil budaya bangsa Indonesia lainnya. Dampaknya adalah bahwa citra bangsa kita yang berkesan kurang peduli akan kekayaan budaya bangsa sendiri.&lt;br /&gt;Dengan demikian sejauhmana masyrakat kita mengenal, memahami dan memakai semua hasil budaya dan karya luhur bangsa Indonesia yang beragam ini adalah menujukkan sejauhmana kita menjaga jatidiri dan harga diri kita sendiri sebagai suatu bangsa bermartabat. Kecuali kalau memang kita tidak pernah merasa, atau tidak tahu, atau memang sengaja "menggadaikan" jatidiri diri kita dan bangsa kita dengan "keglamoran" budaya lain yang dianggap lebih "wah". Kecuali hanya orang-orang yang memang tidak mencintai bangsanya sendirilah yang sengaja tidak mau menggunakan hasil-hasil budaya bangsa sendiri dengan alasan "kampungan", "kuno", tidak modis, tidak trendi, tidak modern, tidak modis dan sebagainya. Tidaklah berlebih kiranya bila kita terus-menerus mengembangkan budaya sendiri untuk kemudian dimanfaatkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebanggaan diri, sebagai identitas diri dan pencitraan diri untuk mandiri bersaing dengan budaya bangsa lain. Batik hanya salah satu dari sekian penanda identitas bangsa. Batik hanyalah salah satu dari penanda jati diri bangsa. Batik mungkin tidak lebih penting dari penanda identitas lain yang lebih pantas untuk dijadikan jati diri bangsa. Tapi sejarah telah membuktikan bahwa tatanan masyarakat Indonesia, terutama bagi komunitas yang masih kukuh mengenakan batik dalam sistem dan siklus kehidupannya adalah mereka yang justru merupakan tonggak "jati diri" bangsa, dan harga diri bangsa di mata bangsa-bangsa lain. Dalam berbagai bentuk penerapannya, seiring dengan kebutuhan masyarakat, sesungguhnya batik dapat dilekatkan tidak hanya pada pakain semata, tetapi juga bisa sebagai ikat kepala, celana, tas, sarung bantal, seprai, sandal, gordeng, topi, map buku, dan sebagainya. Bentuk pelekatan motif batik itu tentunya menunggu "tangan-tangan kreatif" dan "ide-ide inovatif" siapapun untuk dikembangkan lebih jauh kini dan di masa datang. Dengan demikian penegasan bahwa Batik menjadi jati diri dan identitas bangsa Indonesia akan benar-benar "disegani" dan tidak akan semena-mena "diperjualbelikan" bahkan diklaim sebagai budaya bangsa lain. Relakah Harga diri dan jati diri kita "diperjualbelikan" oleh bangsa lain ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-3830783375119779711?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/3830783375119779711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=3830783375119779711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3830783375119779711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3830783375119779711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/06/batik-dan-citra-diri-bangsa.html' title='Batik dan Citra Diri Bangsa'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-9023933891742971829</id><published>2008-05-07T23:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T23:58:35.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi diri antara aku dan yang Ada dalam Aku'/><title type='text'>Aku  Ada dalam Ada dan Ketiadaan</title><content type='html'>Aku bukan sipa-siapa&lt;br /&gt;dan....&lt;br /&gt;siapa-siapa bukanlah Aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah Dia..&lt;br /&gt;yang ada dalam cermin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bayanganku di cermin..&lt;br /&gt;bukanlah Aku yang sesungguhnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada karena Aku merasa ada..&lt;br /&gt;dan..&lt;br /&gt;Aku ada karena ada yang merasakan...&lt;br /&gt;kehadiranku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ada..&lt;br /&gt;karena tidak ada yang merasakan..&lt;br /&gt;kehadiranku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Aku akan tiada...&lt;br /&gt;semoga Aku selalu ada..&lt;br /&gt;menjadi bayangan..&lt;br /&gt;bagi yang ada...&lt;br /&gt;dan..&lt;br /&gt;merasa Aku selalu ada..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-9023933891742971829?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/9023933891742971829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=9023933891742971829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/9023933891742971829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/9023933891742971829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/05/aku-ada-dalam-ada-dan-ketiadaan.html' title='Aku  Ada dalam Ada dan Ketiadaan'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-6164857948838833484</id><published>2008-03-26T06:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:37.592-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='atas nama cinta yang menatap tak pernah menutup'/><title type='text'>Panca Indera Pintu Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/R-pWyJ90RPI/AAAAAAAAACI/udLiqsFBv-s/s1600-h/Gw%2Bdi%2BCisangkuy%2BCafe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/R-pWyJ90RPI/AAAAAAAAACI/udLiqsFBv-s/s320/Gw%2Bdi%2BCisangkuy%2BCafe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182049740911822066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mata ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan hati ini adalah Tuan rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan perasaan adalah sejumlah keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;yang bermacam karakter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Telinga  ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;yang setiap saat bisa terbuka dan tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menerima dan mendengar setiap kisah hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dan sekaligus menutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;untuk setiap lembaran cerita hidup masa lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mulut ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Siapa yang yang mengunci dan terkunci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;tidak akan pernah kita atau dia tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hidung ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk membuka dan membuang gelisah dan desah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;terbuka dan tertutup atas semua galau &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;yang nampak dan terasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kulit ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Siapapun bisa teraba dan masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dan berjiwa di dalamnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;tapi kemudian akan mati dan tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dalam sejatinya jiwa dan raga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Panca indera ini adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;yang akan menampakan dunia dengan segala sandiwaranya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dan akan usai saat sang pintu waktu tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apalah artinya tatapan kalau rasa itu selalu tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apalah artinya bicara kalau asa itu tak pernah terbuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apalah artinya mendengar kalau hati itu tidak pernah terbuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apalah artinya mencium kalau wangi kasih tersumbat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apalah artinya membelai kalau ragamu tak pernah berbuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Janganlah ingkari suara hati dan pikiranmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jangan kau kunci raga dan jiwamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Janganlah menjadi mereka yang "menatap untuk menutup"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;I.I. - Cibiru,Maret '08&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-6164857948838833484?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/6164857948838833484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=6164857948838833484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6164857948838833484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6164857948838833484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/03/panca-indera-pintu-kehidupan.html' title='Panca Indera Pintu Kehidupan'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/R-pWyJ90RPI/AAAAAAAAACI/udLiqsFBv-s/s72-c/Gw%2Bdi%2BCisangkuy%2BCafe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-3562773759100111165</id><published>2008-03-03T08:51:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T09:24:37.868-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kupasan awal tentang apa dan bagaimana Sunda Wiwitan'/><title type='text'>Memahami Sunda Wiwitan-1</title><content type='html'>Sunda Wiwitan adalah penamaan bagi keyakinan atau sistem keyakinan masyarakat asli Sunda. meski penamaan itu tidak muncul oleh komunitas penganut Sunda Wiwitan, tetapi kemudian istilah itu dilekatkan pada beberapa komunitas dan individu Sunda yang secara kukuh mempertahankan budaya spiritual dan tuntunan ajaran leluhur Sunda. Masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul (Ciptagelar) dan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) di Cigugur Kuningan adalah beberapa komunitas yang masih memegang teguh ajaran-ajaran Sunda Wiwitan ini. Secara administratif untuk membedakan seseorang atau warga komunitas yang memeluk keyakinan Sunda Wiwitan ini, biasanya dalam kolom agama dalam KTP (Kartu Tanpa Penduduk) tidak mencantumkan agama semit atau "impor" atau luar negeri (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dsb). biasanya kolom agama mereka kosongkan atau terdapat tanda (-) atau ada yang ditulis (tulis tangan atau diketik) Sunda Wiwitan saja. Jadi jangan terkecoh oleh mereka atau siapapu yang mengaku Sunda Wiwitan sementara dalam kolom agama dalam KTPnya masih ada ketikan nama agama "luar" (bisa jadi mereka hanya pengakuan saja).&lt;br /&gt;Selanjutnya, kondisi keyakinan Sunda Wiwitan dengan ciri administratif pada KTP itu sama halnya dengan mereka yang mengaku "agama-agama adat" nusantara seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parmalim&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pelebegu, kaharingan, kejawen, aluk ta dolo&lt;/span&gt; dsb.  Kondisi seperti ini karena negara masih "pilih kasih" dalam perlakuan administratif kenegaraan. padahal sebelum adanya agama-agama "luar", agama Sunda Wiwitan sudah ada. Bahkan Sunda Wiwitan seolah tidak berhak menyandang "gelar" atau titel "agama" karena konsep agama hanya berlaku bagi "agama-agama luar". Sunda Wiwitan sering dikategorikan sebagai kepercayaan atau aliran kepercayaan, bahkan tidak jarang yang menilai sebagai aliran sesat oleh kaum agamawan.&lt;br /&gt;Agama Sunda Wiwitan tidak pernah dan memang tidak melakukan propaganda agama atau syiar atau missionaris, karena memang "bukan agama misi". bahkan sesungguhnya tidak mudah orang mengaku atau memeluk keyakinan Sunda Wiwitan. Karena agama ini hanya khusus bagi mereka yang jelas keturunannya secara genealogis Sunda.&lt;br /&gt;Penganut Sunda Wiwitan tidak memandang jelek kepada agama lain, bahkan tidak merasa sebagai saingan kompetisi penyebaran, karena sebagaimana tadi dikemukakan bahwa agama Sunda Wiwitan tidak diperuntukan bagi mereka selain jelas ada keturunan "darah Sunda". hal ini mengingat dalam ajaran Sunda Wiwitan memahami bahwa setiap umat manusia yang berbangsa-bangsa dan bersukubangsa di muka bumi ini memiliki agama dan kepercayaannya masing-masing. mereka sendiri berpendapat bahwa jangankan kepikiran untuk mengajak orang lain menganut agama seperti mereka, karena mereka sendiri pun sebagai penganut keyakinan Sunda Wiwitan belum tentu sanggup secara sungguh-sungguh menjalankan keyakinan agamanya tersebut.&lt;br /&gt;sebagai agama leluhur, sesungguhnya agama Sunda wiwitan sama saja dengan agama-agama "luar" juga yang merupakan agama leluhur, karena setiap agama di dunia ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka dari itu dalam agama Sunda Wiwitan sangat menekankan untuk selalu menghormat dan mendoakan leluhurnya sebagai cikal bakal adanya generasi Sunda Wiwitan masa sekarang dan ke depan. Selain itu agama Sunda Wiwitan menekankan untuk menjaga ligkungan alam beserta isinya, tidak sembarangan dalam memanfaatkan kekayaan alam baik flora, fauna dan barang-barang fosil. Karena merusak alam adalah juga merusak ajaran Sunda Wiwitan atau melanggar pada ajaran. (jadi jelas kerusakan alam akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh orag-orang penganut Sunda Wiwitan). Tentunya siapa yang menebar angin, maka dialah yang akan menuai badai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-3562773759100111165?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/3562773759100111165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=3562773759100111165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3562773759100111165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/3562773759100111165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2008/03/memahami-sunda-wiwitan-1.html' title='Memahami Sunda Wiwitan-1'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-5653005693141946981</id><published>2007-10-26T04:20:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T04:55:22.909-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sebuah refleksi di bulan oktober'/><title type='text'>curhat-3</title><content type='html'>Bulan Oktober...adalah bulan penuh gejolak dan dinamika..antara cinta sejati yang ditelantarkan..antara cinta suci yang sedang diperjuangkan..antara cinta kemanusiaan yang dijaga dalam bingkai mempertahankan adat budaya bangsa, di tengah perang ideologi, penjajahan budaya dan ideologi keyakinan yang sudah sekian lama mengerak dalam pola pikir nurani bangsa ini. Sehingga tidak bisa lagi membedakan mana perjuangan cara-ciri kebangsaan sebagai kewajiban kodrat dari Tuhan mana politik idoelogi yang terus sedang melanda bangsa ini. Kadang cinta sejati anak manusia harus menjadi korban dari keegoisan dan kefanatikan keyakinan yang hanya tidak dilihat secara makro dan universal. Memang tidak ada kata paksaan dalam perjuanganku ini. Memang tidak ada kata kekerasan dalam perjuangan tegaknya Pncasila di IndonesiaKu. Memang tidak ada kata menyesal dan mengeluh untuk suatu cita-cita nan luhur untuk sejajar di mata bangsa-bangsa dunia. Memang pula tidak ada kata menyerah manakala selalu mendapat halanan dan rintangan baik secara personal mapun komunal. Tapi..ada kalanya sebagai manusia biasa..ada kerinduan akan belaian mesra insan sang dewi pelindung kemurnian hati ini. Ada kalanya lelah untuk sejenak bersandar menunduk dan terpaku dalam dekapan mesra kasih sang buaian kalbu. Ada kalanya rindu akan senandung puisi dan lagu syahdu dari mulut Sang pujangga Cinta. Kadang adakalanya..berat menahan beban yang tidak bisa diukur dengan timbangan duniawi ini. Ini adalah pilihan hidup dan panggilan jiwa..aku harus tetap berjalan..berjalan dan terus berjalan.. menapaki jalan kehidupan yang penuh liku dan jurang dan badai prahara. Aku belajar menjadi seorang berjiwa Ksatria meski mungkin aku bukanlah seorang Kesatria. Aku selalu belajar menjadi seorang pejuang meski mungkin aku hanyalah pecundang atau yang dipecundangi. Aku akan selalu belajar tersenyum dan tabah dalam setiap godaan, cobaan, cercaan, hinaan, fitnahan dan ancaman hidup ini meski aku bukan Sang Gandhi, Madam Theresia, dan orang-orang berjiwa besar lainnya. Hidupku hanya untuk kebaikan. Hidupku hanya untuk kebahagian orang lain. Hidupku hanya untuk berbakti atas kasih Tuhan. selama nafas dan jantung ini menemani aliran darah di nadiku. Selamat tinggal kasih-kasih suci yang pernah kumiliki...biarkan airmata bathin ini menjadi samudera ketabahan sedalam-dalamnya nuraniku dan seluas-luasnya samudra kesabaran jiwaku dalam bumi ragaku yang mungil ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-5653005693141946981?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/5653005693141946981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=5653005693141946981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5653005693141946981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5653005693141946981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/10/curhat-3.html' title='curhat-3'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-7582159177697861483</id><published>2007-09-30T22:54:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T23:11:07.905-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dedicated by Adiv and Chelly in sunlight'/><title type='text'>Lieur aaah</title><content type='html'>My love is like a lotus&lt;br /&gt;Flows genltly in a swift river&lt;br /&gt;Kadeueuh nu maneuh eunteup nyangreud pageuh&lt;br /&gt;nyarande memepende hate nu guligah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My love has green petals&lt;br /&gt;But no sharp thorns....&lt;br /&gt;Anjeuna nu jadi udagan harepan jaga&lt;br /&gt;Natapakan cucuk garunggang lalakon carita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I place it in the mid o' heart&lt;br /&gt;to make it as white as lotus&lt;br /&gt;Ibarat tarate nu bodas dina hate&lt;br /&gt;ngarandakah sanajan kakeueum ku kapeurih hirup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have got cought&lt;br /&gt;I wanna be well euy...doains embuh dong&lt;br /&gt;emang&lt;br /&gt;tennggorokanku gatel&lt;br /&gt;gimana dong?&lt;br /&gt;gak bisa ngomong&lt;br /&gt;gak jelas jadinya jd pake media ini aja deh&lt;br /&gt;sorry..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eta grentes hate basa keur duaan dina kalangkangna srangenge ti beurang&lt;br /&gt;kacapangan di juru internet...&lt;br /&gt;padungdengan paduduaan..&lt;br /&gt;teuing judulna naon ieu teh..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-7582159177697861483?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/7582159177697861483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=7582159177697861483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7582159177697861483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7582159177697861483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/09/lieur.html' title='Lieur aaah'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-7247021733985208205</id><published>2007-09-30T04:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-02T08:36:48.737-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='simbol kodrati alam yang akan terus saling mengisi'/><title type='text'>Matahari (the adventurer) dan Rembulan ( the challenger)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span&gt;MATAHARI DAN REMBULAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Langit menghamparkan awan&lt;br /&gt;memikul matahari dan rembulan&lt;br /&gt;dua sejoli menerangi Mayapada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayapada menyangga Hidup&lt;br /&gt;menjadi rumah sang khalifah&lt;br /&gt;latar cerita drama kehidupan&lt;br /&gt;panggung lakon hitam dan putih&lt;br /&gt;tangis dan tawa&lt;br /&gt;pantulan Matahari dan Rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata mengintai anggun sang purnama&lt;br /&gt;Kemilau sinar terpancar karena sang surya&lt;br /&gt;dua berbeda satu benderang&lt;br /&gt;menyelimuti kehidupan mayapada&lt;br /&gt;meski berbeda, sukma meraga rasa&lt;br /&gt;tak ada satu tak ada semua&lt;br /&gt;tak ada Dia tak ada Aku&lt;br /&gt;tak ada Aku tak ada Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkelana mengarungi jejak Sang Penantang&lt;br /&gt;mengelana menantang pahit getirnya kehidupan&lt;br /&gt;dalam terangnya siang&lt;br /&gt;dalam gelapnya malam&lt;br /&gt;dalam senangnya takdir&lt;br /&gt;dalam pedihnya nasib&lt;br /&gt;merajut cerita merangkai kisah&lt;br /&gt;dari simbol kodrati dunia&lt;br /&gt;kitab alam dalam kitab wujud&lt;br /&gt;manunggaling kawula gusti&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Rahyang Kujang Kajene&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tebing Giri Mandala Wangi,30 okt'07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-7247021733985208205?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/7247021733985208205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=7247021733985208205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7247021733985208205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/7247021733985208205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/09/matahari-advanturer-dan-rembulan.html' title='Matahari (the adventurer) dan Rembulan ( the challenger)'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-323661935603893641</id><published>2007-09-27T06:42:00.000-07:00</published><updated>2008-08-02T06:38:32.406-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-323661935603893641?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/323661935603893641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=323661935603893641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/323661935603893641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/323661935603893641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/09/agama-asli-nusantara-dihajar-agama.html' title=''/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1452794820234089362</id><published>2007-09-13T02:25:00.001-07:00</published><updated>2007-09-13T03:06:01.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulitnya untuk mengajak orang saling pengertian'/><title type='text'>Curhat-2</title><content type='html'>Suatu hari, saya berkunjung ke ruangan jurusan tetangga, masih pada satu fakultas yang sama. Ada seorang kawan entah kenapa, tiba-tiba bertanya kepada saya ," kapan kawin ?" Saya jawab , "ya mudah-mudahan saja tidak gagal lagi". Sang teman bertanya lagi ," emangnya kenapa? beda agama ya?" . Lalu saya jawab , " seperti biasa..ya". Dia bertanya lagi : "muslim?". "Ya", jawab saya. Makanya udah saja kamu masuk saja menjadi agama saya Islam tetapi ini mah Islamnya Muhammad bukan Islam yang lain-lain." Kemudian dia balik bertanya lagi ,"kamu kan percaya kepada Alloh kan?" percaya kepada Qur'an kan?. Saya jawab ,"bagi saya nabi mana pun dan kitab ajaran agama manapun selama demi jalan kebenaran menuju kebaikan umat manusia..ya saya percayai kebenarnnya." Kemudian sang teman berkata ,"ooo..tidak bisa begitu. Bagi saya Alloh adalah Tuhan saya dan bagi semua umat manusia dan ajaran agama saya adalah paling baik!" Lalu saya bertanya lagi: "kenapa kenyataanya banyak orang beragama seperti kamu, kebanyakannya gak baik, ada yang korupsi, jinah, munafik, membunuh, mencuri dan sebagainya? jawab sang teman : "itulah mereka hanya sekedar ngaku beragama tapi tidak menjalankan ajaran agamanya dan mereka itu terkena pengaruh setan dan iblis." Kemudian dia melanjutnkan pendapatnya ,"sebenarnya kalau berdasarkan ajaran agama saya, kamu itu termasuk temannya setan juga, karena kamu termasuk orang kafir, karena kamu tidak menganut agama Islam seperti saya". Sayatidak kaget, karena demikianlah umumnya arogansi agama mayoritas hee.heetapi kemudian saya menanggapinya , " oo gitu.. jadi saya temannya setan ya?" berarti kalau temannya setan itu tidak akan diganggu setan, artinya kalau saya berbuat kebaikan dan bahkan bertentangan dengan keinginan setan, maka saya mah tidak akan diganggu ..kan teman hee.hee". Saya menangggapi sambil tertawa kecil. kemudian saya berkomentyar lagi :" bagaimana kamu merasa dan berpemikiran bahwa agama kamu yang paling baik, sementara kamu tidak mengetahui, mengenal bahkan tidak memahami agama atau keyakinan orang lain? kan secara logika saja, bahwa kita mengatakan sesuatu itu paling baik jika kita telah membandingkan, mengapresiaisi perbedaan dari yang lain? pernah kah kamu mempelajari Hindu, Budha, Kristen, Konghucu, Sunda Wiwitan dan agama atau keyakinan lainnya?". kemudian sang teman menjawab :" ah tidak perlu begitu, yang penting bagi saya agama saya yang paling baik. dan yang penting saya tidak mengganggu penganut agama lain secara frontal? cuek aja asal dia tidak mengganggu saya, maka saya tidak akan mengganggu dia". Lalu saya menanggapi lagi ,"kalau begitu, kenapa tadi di awal pembicaraan kita kamu mengajak saya untuk masuk agama kamu? dan merasa karena agama kamu paling baik kemudian menyruh saya menganut agama kamu? katanya tidak frontal? apa itu tidak frontal? lagi pula, tidak cukup kita bertolereansi dengan penganut agama lain dengan cuma membiarkan dengan tidak saling ganggu saja, tetapi saya pikir baiknya kita saling berempati, mengenal agama orang lain meski kita tidak harus berubah keyakinan atau tidak mengimani agama orang lain tersebut. Karena dengan demikian maka kita akan menjaga sikap untuk saling pengertian dengan sesama teman yang berbeda agama atau keyakinan." Sang teman berkata ,"ah tidak perlu begitu..gak perlu..yang penting agama saya paling benar, ngapain juga mengenal atau mempelajari agama orang lain yang sudah jelas-jelas salah menurut agama saya?!"..Saya kemudian berkata,"ya suidah kalau begitu..ya silahkan saja pada pilihan kamu..saya hanya ingin kita saling pengertian dengan sesama teman atau orang yang berbeda saja supaya tidak saling menjelekkan..kan tidak baik tuh.." lalu saya pamit menyudahi pembicaraan karena saya akan masuk kelas untuk memeberi perkuliahan Hubungan antar Suku Bangsa. Sambil menepuk pundak dia dan sambil tersenyum, saya mohon pamit kepada Sang teman yang "paling benar itu".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1452794820234089362?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1452794820234089362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1452794820234089362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1452794820234089362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1452794820234089362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/09/curhat-2.html' title='Curhat-2'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-6679121382197621694</id><published>2007-08-27T01:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:37.939-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ritual adat sebagai sarana komunikasi dengan alam'/><title type='text'>ANGKLUNG BADUY</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKPJC9lu4I/AAAAAAAAABc/4z2YxPNFsdE/s1600-h/IMG_0046.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103298713340984194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKPJC9lu4I/AAAAAAAAABc/4z2YxPNFsdE/s320/IMG_0046.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Atraksi ini adalah salah satu tarian warga masyarakat Kanekes (Baduy) dalam upacara Ngareremokeun atau upacara ritual masyarakat kanekes setelah masa panen. Kebetulan acara ritual ini sedang dilakukan juga dalam rangka prosesi ceremonial ritual Seren taun pada masyarakat Adat karuhun Sunda di Cigugur Kuningan Jawa Barat beberapa tahun lalu. Pada setiap tahunnya mereka (masyarakat Kanekes) selalu ikut serta mengadakan ritual Ngareremokeun ini denga mempergelarkan tradisi seni angklung buhun pada upacara seren taun di Cigugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angklung baduy, demikian seni tradisi masyarakat kanekes yang biasa merupakan bagian ritual ngareremokeun pada kegiatan pasca panen. sangat magis, dan memiliki nuansa spiritual yang agung. bagi mereka angklung adalah sarana budaya dalam berkomunikasi denga alam dengan tujuan untuk memohon kepada yang maha Kuasa agar roh-roh alam bisa menyatu dalam kehidupan manusia tetapi tidak mengganggu kehidupan manusia itu sendiri. rampessss.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-6679121382197621694?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/6679121382197621694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=6679121382197621694' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6679121382197621694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6679121382197621694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/08/angklung-baduy.html' title='ANGKLUNG BADUY'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKPJC9lu4I/AAAAAAAAABc/4z2YxPNFsdE/s72-c/IMG_0046.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-2725045457134275223</id><published>2007-08-27T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:38.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil aksi potret sang antropolog muda saat riset'/><title type='text'>Meneliti-Menulis-Meneliti</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKJ3C9lu3I/AAAAAAAAABU/eYD9zCR_U5U/s1600-h/107-0794_IMG.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103292906545199986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKJ3C9lu3I/AAAAAAAAABU/eYD9zCR_U5U/s320/107-0794_IMG.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aktivitas seperti ini sepertinya sok serius..tapi emang emang serius..sang pengelana sedang menulis apa yang dia lihat pada masyarakat pesisir pantai di daerah bontang Kalimantan Timur. Foto ini diambil tidak sengaja oleh Sita (senior antropologi unpad angkatan 89). sekitar tahun 2003 sang pengelana budaya dengan rekan dari unpad di bawah pimpinan Prof Kusnaka A. mendapatkan project tentang Community Development di sekitaran perusahaan PKT Bontang Kaltim. Itu pengalaman pertama penelitian ke luar Jawa yang sangat mengasikkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meneliti bagaimana dampak sosial budaya atas keberadaan pabrik pupuk PKT Bontang adalah tugas kami waktu itu. seharian kami berkeliling dan bertemu dengan masyarakat sambil mewawancara mereka. meklihat langsung, bertanya, menyimak dan menulis atau merekam apa-apa yang kami dapat adalah makn sehari-hari kami saat itu. sepulangnya dari "lapangan", tugas menulis dan menyusun data adalah pekerjaan yang kami lakukan bersama-sama sambil beristirahat sampai larut malam tiba. saat ada data yang perlu kami perbincangkan, kami meneliti kembali pada esok harinya. meneliti, menulis dan meneliti kembali demikianlah "core work of scientist" khususnya antropolog. tentunya belajar dan belajar dari setiap riset yang dilakukan adalah kewajiban pengelana budaya yang senantiasa akan terus berjalan seiring dengan garis kehidupannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-2725045457134275223?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/2725045457134275223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=2725045457134275223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/2725045457134275223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/2725045457134275223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/08/meneliti-menulis-meneliti.html' title='Meneliti-Menulis-Meneliti'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKJ3C9lu3I/AAAAAAAAABU/eYD9zCR_U5U/s72-c/107-0794_IMG.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1270535092389050378</id><published>2007-08-26T23:45:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:38.414-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengkader intelektual kampus berkesenian demi kemajuan budaya bangsa'/><title type='text'>"Ngariung jeung LISES UNPAD"</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtJ86i9lu0I/AAAAAAAAAA8/TFwRBwrqF3E/s1600-h/LKOR+I+(126).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103278673023580994" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtJ86i9lu0I/AAAAAAAAAA8/TFwRBwrqF3E/s320/LKOR+I+(126).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;LISES UNPAD atau Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa tingkat kampus di lingkungan Universitas Padjadjaran. Kiprahnya sudah banyak dikenal baik dari tingkat lokal maupun sampai mancanegara. bahkan Rektor UNPAD, Prof. Ganjar Kurnia, yang sedang menjabat sekarang pun adalah salah seorang pendiri LISES UNPAD yang pada masanya juga beliau memelopori berkembangnya seni calung atau sejenis alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul sambil ditenteng atau dijinjing. seni angklung kemudian berkembang menjadi salah satu kesenian yang sangat digemari masyarakat tatar sunda. dalam hal ini berarti sudah sejak lama LISES UNPAD telah memiliki komitmen yang jelas untuk "&lt;em&gt;ngamumule Budaya Sunda&lt;/em&gt;" atau melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto di atas menggambarkan salah satu kegiatan LISES UNPAD dalam mengkader para anggotanya dengan membekali mereka sebelum menjadi anggota aktif. Kegiatan dimaksud biasanya berupa pelatihan kesnian dan materi budaya Sunda. Harapan LISES UNPAD bahwa para anggota LISES yang nota bene adalah para mahasiswa dari berbagai jurusan di lingkungan kampus UNPAD, tidak hanya sekedar belajar berkesenian, tetapi juga memiliki pengetahuan akan khasanah budaya Sunda dan memiliki jiwa yang bertanggungjawab dan bergelora untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan kebudayaan Sunda dalam kancah perkembangan jaman masa kini. Meski LISES UNPAD adalah wadah berkeseniannya mahasiswa UNPAD khususnya dalam Seni Sunda, tetapi tidak berarti bahwa angota LISES UNPAD hanya boleh dari kalangan mahasiswa Sunda saja. Ada orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan sebagainya. ini menunjukkan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sepatutnya saling mengenal khasanah kebudayaan bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Karena sebagaimana juga dikatakan oleh Jaya Suprana ketika memberikan penghargaan Rekor MURI kepada UNPAD setelah memecahkan Rekor memainkan 10.000 angklung dalam acara Penerimaan Mahasiswa Baru UNPAD tanggal 27 Agustus 2007, bahwa : "Kita bangsa Indonesia.. boleh kalah dalam olah raga dan ekonomi dunia..tapi kita tidak akan kalah dalam khasanah kebudayaan dengan bangsa manapun..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu memang benar adanya, hanya bagaimana kemudian masyarakat Indonesia sadar dan mampu untuk sungguh-sungguh berkembang dan berpijak dari kebudayaan yang beragam itu adalah "pekerjaan rumah" yang harus segera ditata bersama. Salah satunya adalah telah dan sedang dilakukan LISES UNPAD dimana anggotanya adalah para kaum intelektual para kader bangsa yang tidak hanya menuntut ilmu pada bidang kajiannya masing-masing, tapi juga belajar mengenal dan mengembangkan kebudayaan bangsa melalui berkesenian. Tidaklah muluk-muluk...tapi itu realita...HIDUP LISES UNPAD, JAYA LISES UNPAD !!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1270535092389050378?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1270535092389050378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1270535092389050378' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1270535092389050378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1270535092389050378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/08/ngariung-jeung-lises-unpad.html' title='&quot;Ngariung jeung LISES UNPAD&quot;'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtJ86i9lu0I/AAAAAAAAAA8/TFwRBwrqF3E/s72-c/LKOR+I+(126).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-5454709811569140789</id><published>2007-08-11T05:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:38.715-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inilah  aku dan hidupku'/><title type='text'>Curhat (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKGlC9lu2I/AAAAAAAAABM/0hEfEdhPHAA/s1600-h/109-0980_IMG.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103289298772671330" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKGlC9lu2I/AAAAAAAAABM/0hEfEdhPHAA/s320/109-0980_IMG.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat-saat seperti ini adalah saat dimana aku merasa benar-benar hidup. hidup dengan segala masalah dan rona kehidupan. kontrakan rumah habis di akhir bulan ini. kerjaan menumpuk sambung-menyambung satu dengan lainnya. bahakn berhimpitan waktu sehingga susah untuk memilih mana yang harus didahulukan. tesis yang sudah lama terkatung-katung. persiapan menjelang tahun ajaran baru kampus adalah masa-masa dimana semua dosen harus back to campus dan segera mempersiapkan materi-materi perkuliahan. dunia aktivitas di lua kampus masih memiliki agenda yang cukup panjang dan ke depan tentunya akan bertabrakan dengan aktivitas utama di kampus. tapi seperti biasa....saya nikmati itu. tugas dalam beberpa kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung memanggil jiwa dan hati untuk selalu melaksanakan kegaiatan perjuangan hak-hak sipil kaum agama adat yang terdiskriminasi, adalah darah yang akan terus mengalir selama saya menghirup udara dunia.&lt;br /&gt;cobaan.. tantangan..kendala..kecurigaan..fitnahan..intimidasi..provokasi..beban berlebih..kesepian..tuntutan orang tua..masalah keluarga..adalah teman-teman yang selalu setia mengisi hari-hari saya dalam liku-liku dan panjangnya jalan kehidupan yang masih harus dilalui...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga ku selalu diberiketabahan...keselamatan..kesadaran..dan kejujuran untuk menikmati itu semua...duh Gusti...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-5454709811569140789?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/5454709811569140789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=5454709811569140789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5454709811569140789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5454709811569140789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/08/curhat-1.html' title='Curhat (1)'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RtKGlC9lu2I/AAAAAAAAABM/0hEfEdhPHAA/s72-c/109-0980_IMG.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-6143171266394464602</id><published>2007-07-26T07:25:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:36:38.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sepenggal cacatan perjuangan untuk Indonesiaku'/><title type='text'>UPAYA MENUMBUHKAN  HARMONI SOSIAL ANTAR UMAT BERBEDA KEYAKINAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara keilmuan antropologi, terdapat perspektif bahwa sistem kepercayaan atau religi mengalami perkembangan evolutif dari animisme, dinamisme, totemisme sampai tahap konsepsi general yaitu "agama" (dalam bahasa kultur religi masyarakat Indonesia) dan saling berkaitan dengan unsur kebudayaan dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada beberapa konsep pokok kebudayaan menurut bapak antropologi, E.B. Tylor yaitu &lt;em&gt;acquired, complex whole,&lt;/em&gt; yang terus bergerak atau berubah lepas dari evolusi organik (super organik dari kebudayaan). Beranjak dari pemahaman kebudayaan E.B.Tylor ini, maka pemahaman dimensi religius tentang konsep "agama" sebagai konsepsi puncak dari perkembangan sistem kepercayaan yang berkembang dalam kehidupan manusia (dalam budaya spiritual Indonesia). Benarkah demikian? Bagaimanakah posisi "agama minoritas" atau "sistem kepercayaan" komunitas adat (seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, Kaharingan,Parmalim, Aluk Tadolo dsb) dalam ruang publik ? Sejauh mana awam dapat memahami dan menerima kaum minoritas ini sebagai "agama" (seperti agama Islam, Kristen ds) , untuk kemudian bekerja sama dalam menata kehidupan bersama yang lebih baik? Tapi bagaimana pun dan apapun itu namanya, sebuah sistem kepercayaan agama adat tadi (sebagai contoh agama asli Bangsa Nusantara), memberikan identitas baik personal maupun kelompok budaya tertentu dan memiliki  &lt;em&gt;ritual systems and other aspects of religious practice.&lt;/em&gt; Bahkan pada prakteknya sistem kepercayaan yang dimaksud memiliki pola religiusitas dan religiomagi yang berkaitan dengan sistem sosial dan teknologi yang dikembangkan dalam kehidupan masyarakatnya. Hanya saja eksistensi mereka secara sosial dan politis sejauh ini masih mengalami berbagai hambatan dan tantangan baik berupa diskriminasi yang bersifat vertikal (secara hukum dan birokrasi) maupun secara horizontal (stereotip negatif dan pembedaan perilaku oleh kalangan masyarakat sekitar).&lt;br /&gt;Diharapkan seyogyanya, dalam kehidupan masyarakat yang heterogen, berbeda keyakinan jangan sampai merenggangkan tali persaudaraan sesama warga bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Seperti halnya terjadi pada komunitas Adat Karuhun Sunda di Cigugur-Kuningan Jawa Barat, yang dikenal dengan masyarakat AKUR, komunitas mereka hidup berdampingan secara harmonis antar pemeluk keyakinan (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha,Konghucu, Kejawen dan Sunda Wiwitan). Dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap saling menghormati keyakinan satu dengan lainnya dengan dasar filosofi "&lt;em&gt;silih asih - silih asah - silih asuh&lt;/em&gt;" (saling mengasihi - saling mengembangkan - saling membimbing). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adanya sikap lebih mengutamakan saling mencari "satu pengertian" bukan " satu pengakuan" menjadikan kehidupan sosial mereka didasarkan pada bagaimana upaya untuk saling mencari titik-titik persamaan pengertian masing-masing ajaran keyakinan kegamaan satu dengan lainnya. Bahkan bukan hanya dalam hal mewujudkan saling pengertian antara masing-masing keyakinan tetapi juga dalam perbedaan suku bangsa dan bangsa. Manifestasi sosial ini pada puncaknya dinampakkan dalam wujud budaya spiritual dalam bentuk Upacara Seren Taun setiap tanggal 22 Rayagung Saka Sunda. Dalam hal mana pada Upacara Adat Seren Taun tersebut, didukung dan dilaksanakan oleh berbagai kalangan umat beragama dan suku bangsa dan berdoa pun secara bergantian menurut keyakinannya masing-masing.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-6143171266394464602?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/6143171266394464602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=6143171266394464602' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6143171266394464602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/6143171266394464602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/upaya-menumbuhkan-harmoni-sosial-antar.html' title='UPAYA MENUMBUHKAN  HARMONI SOSIAL ANTAR UMAT BERBEDA KEYAKINAN'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-4297137947428719602</id><published>2007-07-25T07:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-25T08:02:12.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil darma untuk bangsaku tercinta'/><title type='text'>Jatinagor Festival 2007</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kemarin perjalana cukup panjang...dari sebuah cita-cita kecil terwujud sudah..JATINANGOR FESTIVAL digelar sudah. meski panitia berjalan tertatih-taih dengan dana yang sangat minim dan minimnya support pemda setempat, tapi justru menjadi tantangan bagi para pantia yang umumnya adalah mahasiswa UNPAD dari berbagai Fkultas, Jurusan, suku dan agama yang berbeda beda. dasar kegiatan itu mungkin sederhana saja, adalah ingin mengangkat kebudayaan setempat dan memberikan penganugrahan kepada budayawan dan seniman lokal yang banyak berjasa dalam menjaga dan mengembangakn budaya seni Sunda sebagai budaya dominan di jatinagor. Dalam hal ini, setidaknya kegiatan itu membuktikan bahwa para mahasiwa UNPAD sangat peduli terhadap masyarakat sekitar kampus dan terutama peduli dalam menjaga kelestarian Kebudayaan bangsa. Saya merasa bangga dengan semangat para panitia yang bekerja tanpa pamrih, meski disela-sela kesibukan UAS, liburan dan aktivitas sehari-hari lainnya. Ditengah tragedi ironis, dimana adanya segrombolan mahasiswa yang mengeroyok masyarakat setemapt bahkan sampai meninggla, terlepas dari faktor yang meletarbelakanginya, bagi saya, meski kematian adalah Takdir yang maha Kuasa, tapi sebab akibat "kebrutalan" sikap mahasiswa sampai korban meninggal adalah tidak benar.&lt;br /&gt;Tanpa berpretensi negatif terhadap sesama civitas akademika kampus "tetangga", saya menghimbau, hilangkan sikap kekerasan dalam dunia pendidikan terutama di kampus yang akan mencetak kader-kader bangsa yang akan menjadi pemimpin masyarakat. apalagi Perguruan tinggi dan mahasiswa tersebut dibiayai oleh "keringat" rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Ke depan mudah-mudahan Jatinagor Festival yang menampilkan lomba film dokumenter, foto-foto seputar kampus jatinangor, lomba jaipong, kawih, mendongen anak-anak, juga pergelaran seni tradisi Sunda bisa menjadi lebih semarak lagi di tahun mendatang. Lebih dari itu semoga : Para Pemimpin Rakyat Jawa Barat SUNGUH-SUNGGUH mencintai dan mengembangkan kebudayaan SUNDA sebagai salah satu penyokong Kebudayaan Nasional. Disamping SUNGGUH-SUNGGUH memperhatikan tradisi masyarakat dengan segenap aspek kehidupannya di tengah arus GLOBALISASI yang terus masuk ke pelosok-pelosok negeri ini. MERDEKA !!!MAHARDIKA !!! BEBASKAN INDONESIA DARI PENJAJAHAN IDEOLOGI BANGSA ASING APAPUN ITU !!! BERDIKARI DAN BANGKITLAH INDONESIAKU !!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-4297137947428719602?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/4297137947428719602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=4297137947428719602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4297137947428719602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4297137947428719602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/jatinagor-festival-2007.html' title='Jatinagor Festival 2007'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-5881274093607711498</id><published>2007-07-20T11:41:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T12:38:49.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jangan tanyakan apa agamamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tapi tanyakan  yang diyakininya'/><title type='text'>Agama Masa Depan adalah Agama Kemanusiaan</title><content type='html'>Hadirnya agama adalah untuk kebahagiaan&lt;br /&gt;Adanya agama adalah untuk kedamaian&lt;br /&gt;Hadirnya agama tidak mempersulit bahkan mempermudah kehidupan&lt;br /&gt;Agama bukan paksaan dan tidak boleh dipaksakan&lt;br /&gt;Hadirnya agama adalah adalah untuk keyakinan pribadi&lt;br /&gt;Agama apapun baik adanya bagi penganutnya&lt;br /&gt;Tidak ada agama paling bagus atau paling jelek&lt;br /&gt;Tidak ada dikotomi tegas antara agama bumi dan wahyu&lt;br /&gt;Adanya agama-agama karena ada-Nya yang menciptakan agama-agama melalui proses yang berbeda&lt;br /&gt;Semua agama akan menjadi baik karena perilaku umatnya&lt;br /&gt;Suatu agama akan menjadi tidak bermakna jika umatnya tidak mampu memaknai agamanya itu sendiri, apalagi sebatas topeng formalitas dan politis belaka&lt;br /&gt;Agama bukan sekedar ayat suci dan simbol-simbol putih&lt;br /&gt;Putih tidak selalu berarti Suci&lt;br /&gt;Agama bukan untuk menakut-nakuti&lt;br /&gt;Beragama belum tentu religius, sedangkan orang yang religius pasti memiliki agama&lt;br /&gt;Agama berubah karena budaya, dan berkembangnya agama juga karena budaya&lt;br /&gt;Agama pun akan membudaya bilamana menjadi keumuman dalam komunitas manusia&lt;br /&gt;Agama tidak akan membudaya bahkan bertentangan dengan budaya bilamana menolak atau bahkan merusak budaya komunitas yang sudah lama berada&lt;br /&gt;Beragama berarti berbudaya meski tidak setiap orang berbudaya juga beragama&lt;br /&gt;Tidak beragama tidak berarti identik dengan tidak ber-Tuhan&lt;br /&gt;Tidak percaya kepada Tuhan tidak berarti tidak berbudaya&lt;br /&gt;Tidak percaya kepada Tuhan tidak berarti tidak beragama&lt;br /&gt;Beragama tidak menutup kemungkinan tidak percaya kepada Tuhan&lt;br /&gt;Percaya kepada Tuhan tidak selalu harus beragama, karena banyak orang beragama merusak ciptaan Tuhan atau melanggar ajaran Tuhan mereka sendiri, sebaliknya...&lt;br /&gt;Orang yang berbuat kebaikan atas nama kemanusiaan tidak selalu ia dituntut untuk harus  percaya dulu kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Beragama adalah berperilaku yang baik selayaknya kodrat sebagai manusia yang memiliki sama rasa dan perasaan untuk saling merasakan satu dengan lainnya sebagai bagian dari alam dan lingkunganya&lt;br /&gt;Jadi masa depan keberagamaan adalah Tegaknya Kemanusiaan di Muka Bumi.&lt;br /&gt;Sehingga...Agama Masa Depan yang akan menjadi pilihan setiap manusia di Muka Bumi adalah&lt;br /&gt;AGAMA KEMANUSIAAN......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-5881274093607711498?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/5881274093607711498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=5881274093607711498' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5881274093607711498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/5881274093607711498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/agama-masa-depan-adalah-agama.html' title='Agama Masa Depan adalah Agama Kemanusiaan'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1672123133596899116</id><published>2007-07-20T10:49:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:38.922-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wujudkanlah mimpi-mimpi indah menjadi kenyataan'/><title type='text'>Refleksi Kampus Idaman Pasca Kunjungan ke NUS</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RqD2ZAeA-yI/AAAAAAAAAAs/Sx4nemHAYD4/s1600-h/jalan-jalan+di+kampus+NUS.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RqD2ZAeA-yI/AAAAAAAAAAs/Sx4nemHAYD4/s320/jalan-jalan+di+kampus+NUS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089338488411716386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:georgia;" &gt;Oleh-oleh buah pengalaman / refleksi sewaktu kujungan pengelana buana budaya ke NUS (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;National University of Singapura&lt;/span&gt;) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:georgia;" &gt;"Universitas adalah kebanggaan bagi setiap mahasiswanya juga para almamater lainnya. Suatu kebangaan terhadap Universitas tentunya tidak semata-mata karena indahnya atau artistiknya arsitektur bangunan kampus, bagusnya tataletak bangunan kampus mulai dari taman kampus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stadium centre&lt;/span&gt;, cafe kampus, sarana dan prasarana seperti laboratorium, perpustakaan dan sebagainya. ada yang lebih penting lagi sepertinya yaitu iklim atau suasana pendidikan atau mungkin semacam budaya kampus yang betul-betul edukatif, inovatif,progresif, dan kondusif. Sebuah kampus yang bagus memang tidak sekedar nyaman, meski kenyaman adalah faktor penting dalam suasana kampus. Sebuah kampus yang progresif memiliki kurikulum yang canggih dengan mengindahkan pemikiran yang inovatif dan progresif dan terbuka terhadap dunia luar dan perkembangan jaman. Iklim budaya kampus yang kondusif antar sesama mahasiswa, dosen, pejabat kampus dan staf akademika lainnya penting dibuat suasana pergaulan yang harmonis dan penuh kekeluargaan. Etika antar berbagai komponen kampus terus terjaga tanpa menimbulkan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gap&lt;/span&gt; atau jurang keakraban diantara mereka. Pentingnya menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pada masing-masing peran komponen kampus adalah tanggungjawab bersama. Misal tidak ada salahnya dosen makan bareng di cafe kampus bersama dengan mahasiswa-mahasiswanya. Ngobrol atau jalan-jalan bareng di taman kampus sambil bersenda gurau sesama dosen dan mahasiswa dan birokrat kampus dan sebagainya. Para dosen tidak perlu "sok dosen" ketika berhadapan dengan mahasiswa di luar kelas, sebaliknya mahasiswa juga jangan "sok akrab" sehingga "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;out of control&lt;/span&gt;" dalam bersikap atau "tidak sopan" meski para dosen memberikan keleluasaan dalam pergaulan mereka. Intinya bagaimana iklim kampus dibuat senyaman mungkin sebagai kesatuan ruang infrastruktur dan sistem pendidikan, antara arsitektur, tata letak kampus, kurikulum, sarana prasarana, kebijakan yang transparan dan humanistis dengan tetap menumbuhkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;esprit the corps&lt;/span&gt;   " kampus tercintanya..Siapa yang tidak bangga menjadi almamater dari kampus idaman itu..&lt;span style="font-style: italic;"&gt;some day on the future..I hope always.&lt;/span&gt;.BRAVO ANTROPOLOGI UNPAD !!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1672123133596899116?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1672123133596899116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1672123133596899116' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1672123133596899116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1672123133596899116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/oleh-oleh-buah-pengalaman-refleksi.html' title='Refleksi Kampus Idaman Pasca Kunjungan ke NUS'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/RqD2ZAeA-yI/AAAAAAAAAAs/Sx4nemHAYD4/s72-c/jalan-jalan+di+kampus+NUS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-1515643733660295702</id><published>2007-07-19T13:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:39.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jangan hancurkan senyum mereka dengan Egoisme Keagamaan'/><title type='text'>Pelangi Budaya Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp_PhgeA-xI/AAAAAAAAAAk/DY2CIHaMaXk/s1600-h/multiculture.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp_PhgeA-xI/AAAAAAAAAAk/DY2CIHaMaXk/s320/multiculture.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089014278510410514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sang Pengelana Buana Budaya pasti akan senang bertemu dan berkenalan dengan bangsa mana pun. Indah sekali dunia ini tercipta dari sederetan budaya yang tanpa harus dipertentangkan tapi mesti saling disandingkan. Duduk sama rata berdiri sama tinggi. Dari kiri-kanan mereka adalah orang Dayak Hindu Buda Bumi Segandu Losarang dari Indramayu, sehari-hari mereka berpakaian seperti itu. Kemudian orang Padang yang menjadi warganegara Singapura. Selanjutnya warga bangsa dari Venezuela, Sang Pengelana BuanaBudaya dari Sunda Wiwitan Cigugur-Kuningan Jawa Barat. Mereka berkumpul dalam Upacara Seren Taun di masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda di Cigugur Kuningan beberapa tahun yang lalu. dalam Upacara seren taun Cigugur, puncak acara adalah doa bersama dari masing-masing agama baik agama-agama luar (Islam, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan Kristen Protestan) dan agama adat yaitu Sunda Wiwitan. Bahkan UpacaraSeren Taun itu pun menampilkan berbagai prosesi pakaian adat dan atraksi kesenian masing-masing budaya bangsa tidak hanya yang ada di Indonesia tetapi juga dari bangsa negara lain seperti Jepang, Meksiko dan sebagainya yang kebetulan saat itu hadir bersama. Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan saling melengkapi ? Ingat adanya faham "Relativisme Budaya" menunjukkan pada kita bahwa tidak ada budaya di dunia ini yang paling bagus atau paling jelek. kita harus memandang budaya bansga lain dari kaca mata budaya itu sendiri.&lt;br /&gt;Beraneka budaya bangsa yang tumbuh di mayapada ini ibarat Pelangi yang bersinar dari satu sumber cahaya yang sama. tidak untuk dipertentangkan. Alangkah ironisnya bilamana keindahan budaya bangsa yang beraneka warna dan hidup saling berdampingan secara damai dan tentram itu menjadi porak poranda oleh karena "egoisme" faham keagamaan yang sempit dan "Sok Fundamentalis Sejati" padahal mereka adalah provokator diskriminasi yang tidak menginginkan adanya kedamaian di muka bumi ini dengan "Kedok Ayat-Ayat Suci" dan tameng simbol-simbol Kegamaan. Mereka Ibarat Gerhana yang sangat tidak disukai siapapun dan membahayakan umat manusia manapun di muka bumi ini. Mereka adalah "orang-Orang buta mata" dan "buta hati" yang tidak bisa melihat Anugerah Ilahi yaitu Indahnya "Pelangi Budaya Bangsa-Bangsa".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-1515643733660295702?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/1515643733660295702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=1515643733660295702' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1515643733660295702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/1515643733660295702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/sang-pengelana-buana-pasti-akan-senang.html' title='Pelangi Budaya Bangsa'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp_PhgeA-xI/AAAAAAAAAAk/DY2CIHaMaXk/s72-c/multiculture.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-552761139171537982</id><published>2007-07-19T12:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:39.365-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pada Cerminmu akan nampak Seribu Raut Mukamu'/><title type='text'>Dasa Muka Dasa Cerita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-5fgeA-wI/AAAAAAAAAAc/83PgN8MuhVo/s1600-h/Dasamuka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-5fgeA-wI/AAAAAAAAAAc/83PgN8MuhVo/s320/Dasamuka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088990054894861058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak mengenal Dasa Muka dalam kisah pewayangan Ramayana ? Siapa yang tidak benci Dasa Muka dibandingkan terhadap Sri Rama ? Dasa Muka adalah bergelar Prabu dan memiliki nama keren lainnya adalah Rahwana. Jadi meski Dasa Muka banyak dibenci penggemar dunia pewayangan tapi dia adalah Prabu bahkan rohnya dari alam buana ini (rah = roh, wana = hutan = alam = buana).&lt;br /&gt;Secara realita, bilamana kita bercermin maka kita akan melihat satu wajah kita yang berarti satu muka kita. Coba perhatikan dengan seksama muka kita pada cermin di hadapan kita. Pandang, tatap sedalm-dalamnya muka kita. bagaimana raut muka yang nampak ? bagaimana ekspresi wajah kita saat kita menatap ke dalam rongga mata di depan cermin kita ? Atau bayangkan ekspresi muka kita selama satu hari ini. Ada berpa "topeng" muka kita yang menempel dalam lakon sandiwara kehidupan kita ini. dimana dari setiap "topeng" ekspresi muka itu kita berganti-ganti lakon dan itu pun berbeda antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;front stage&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;back stage. &lt;/span&gt;Apakah kita menyenangi "topeng-topeng muka kita itu ? Ataukah sebaliknya kita justru membencinya hanya saja tak kuasa mengungkapkannya ? Apakah kita menyadari perubahan muka kita dalam setiap cerita kehidupan ini. bahkan mungkin tidak hanya se-Dasa Muka yang kita miliki tapi "Seribu Muka" yang kita miliki.&lt;br /&gt;Mengapa Seribu Muka itu ada meski kita tidak minta dan tidak berharap sebelumnya ? Itu adalah "muka atau wajah" dari roh-roh kehidupan dari alam ini yang menyatu dan bersama-sama ingin hidup dalam raga yang berwujud manusia. Inilah tugas "Muka Manusia" atau Muka Sri Rama yang sesungguhnya juga telah menyatu dalam diri kita. Hanya saja kita lebih sering munafik dengan selalu berganti "muka" lebih dari Dasa Muka. Sepantasnya kita menjadi Prabu atas Dasa Muka dalam diri kita sendiri. Bukan menjadi penguasa yang muka Dasa atau bahkan lebih. Tapi kita sebagai manusia harus menjadi Manusia yang mampu menjadi "pemimpin" dari muka roh-roh alam yang menyatu dalam wujud kita. Kita harus menjadi Imam bagi mereka dan menyempurnakannya dalam perilaku. Sebab manusia adalah "Wadah Panglokatan" atau penyempurna dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;roh-roh hurip tanah pakumpulan&lt;/span&gt; baik hewani maupun nabati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-552761139171537982?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/552761139171537982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=552761139171537982' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/552761139171537982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/552761139171537982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/siapa-yang-tidak-mengenal-dasa-muka.html' title='Dasa Muka Dasa Cerita'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-5fgeA-wI/AAAAAAAAAAc/83PgN8MuhVo/s72-c/Dasamuka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-4492951323962939197</id><published>2007-07-19T11:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:39.629-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kecanggihan abad ini adalah bagi mereka yang mampu berpikir dalam dan meluas untuk umat manusia'/><title type='text'>Tidak Sekedar Tiga (TST)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-pMAeA-vI/AAAAAAAAAAU/2kkQi-hWQUs/s1600-h/Gunungan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-pMAeA-vI/AAAAAAAAAAU/2kkQi-hWQUs/s320/Gunungan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088972127701367538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak simbol yang berdasar pada jumlah, angka atau ukuran tiga. Cipta-Rasa-Karsa. Sir-Rasa-Pikir.Buana Atas-Tengah-Bawah. Allah Bapa-Putra-Roh Kudus. Cinta-Perjuangan-Pengabdian. Pesta-Buku-Cinta. Adat-Sara-Kitabulloh. Rama-Resi-Ratu. Brahma-Wisnu-Siwa. Sex-Sun-Sand dan sebagainya. Nasi Tumpeng, Gugunungan Wayang, Rumah Adat, Kemah atau Camp masyarakat bangsa Indian dan sebagainya membentuk sudut segitiga. Tri Tangtu di Buana, Tri Tangtu dina Raga, Tri Tunggal Maha Kudus, Dalihan Na Tolu, Tigo Tungku Sajarangan, Tri Daya Eka Karsa, Tri Pitaka, Tri Murti, The Third Countries, Tri Sila, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Ada ada apa dengan angka tiga (3) ? Mengapa tiga (3) ? meski sekedar angka ganjil, tetapi angka tiga ini sepertinya dmaknai oleh setiap orang, setiap budaya dan setiap jaman. Entah disadari atau tidak saat pemaknaan angka atau ukuran tiga ini, namun hanya orang yang berfilosofi dan berpikir dalam yang mampu membuat angka dan ukuran tiga menjadi bermakna konotatif atau filosofis. Siapa saja mereka yang menjadi pencetus makna-makna mutiara di balik angka dan ukuran-ukuran tiga di bentara budaya dan ajaran di dunia ini ? Pernahkah kita mencoba berpikir mendalam mengungkap makna di balik sesuatu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tangible, &lt;/span&gt;kongkrit&lt;span style="font-style: italic;"&gt;,  &lt;/span&gt;dan jelas. Bahkan kalau kita coba simak satu persatu dari sekian angka dan ukuran, hampir memiliki makna konotasi tidak sebatas angka nominal yang real dan pragmatis. Sejauh mana perbedaan masa lalu dan sekarang bisa ditandai dengan seberapa banyak jurang perbedaan sikap yang pragmatis dan filosofis. Sejauh mana berpikir mendalam tidak sekedar romantis. Sejauhmana berpikir idealis bergulat dengan kemampuan berpikir realistis ekonomis. Sejauh mana keberanian berpikir kritis konstruktif berhadapan dengan pola pemikiran yang egois dan cauvinis. Sejauh mana kemampuan berkomunikasi tingkat tinggi dengan komunikasi tingkat rendah dalam budaya pergaulan. Sejauhmana kemampuan kita memaknai kehidupan secara arif dibandingkan dengan ketidakmampuan kita dalam memberi makna dalam kehidupan itu sendiri. Seolah kemodernan adalah kecangihan belaka. dan kecanggihan itu sendiri parahnya hanya diukur dalam bentuk teknologi bukan dalam pola pikir yang arif dan sikap yang beradab dan bersahaja. kadang kebersahajaan dianggap sebagai keterbelakangan. merka yang terbelakang (katanya) adalah mereka yang hidup nun jauh di hutan dan pegunungan sana (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;up landersi) &lt;/span&gt;yang selalu menjaga hutan dan menjadikan hutan rindang dan berbuah. yang terbelaknag itu adalah mereka yang selalu berfilosofi dan berkonotasi dalam setiap tutur kata dan perilakunya. Mereka menggali dan mempertahankan budaya sebagai identitas dan jati dirinya menantang peradaban modern. Sementara atas nama kecanggihan (teknologi) yang realistis dan pragmatis terus menggerus tanah, menebas hutan belantara, menggali sumber daya alam dan mengubur adat dalam-dalam dan memberinya nisan "BUDAYA POP".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-4492951323962939197?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/4492951323962939197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=4492951323962939197' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4492951323962939197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/4492951323962939197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/banyak-simbol-yang-berdasar-pada-jumlah.html' title='Tidak Sekedar Tiga (TST)'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-pMAeA-vI/AAAAAAAAAAU/2kkQi-hWQUs/s72-c/Gunungan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5104036114682035166.post-8276566884294394688</id><published>2007-07-19T09:56:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T22:44:39.820-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bukan sekedar makanan raga tapi jiwa dan Simbol Identitas Spiritual Budaya'/><title type='text'>Sanghyang Sri Pwah Aci</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-YjgeA-uI/AAAAAAAAAAM/pfaorwMXZ_E/s1600-h/6a00c225205ee6f21900c22527c8218fdb-120si.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-YjgeA-uI/AAAAAAAAAAM/pfaorwMXZ_E/s320/6a00c225205ee6f21900c22527c8218fdb-120si.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088953839730621154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sanghyang Sri Pwah Aci..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ligar ngaranggeuy nanggeuy mata holang..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kawening galih ngancikna rasa sajati..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sang Ratu Roh Hurip tanah pakumpulan&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maparin runtuyan kahayang raga waruga..&lt;br /&gt;Nganteur salira wawakil Sunan Ambu di Buana Nyungcung..&lt;br /&gt;Malih warni sumerep na lemah nu Suci panglokatan ingsun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5104036114682035166-8276566884294394688?l=girimandala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://girimandala.blogspot.com/feeds/8276566884294394688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5104036114682035166&amp;postID=8276566884294394688' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/8276566884294394688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5104036114682035166/posts/default/8276566884294394688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://girimandala.blogspot.com/2007/07/sanghyang-sri-pwah-aci.html' title='Sanghyang Sri Pwah Aci'/><author><name>Pengelana Buana Budaya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vITzpB2prxY/Rp-YjgeA-uI/AAAAAAAAAAM/pfaorwMXZ_E/s72-c/6a00c225205ee6f21900c22527c8218fdb-120si.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
