Rabu, 07 Mei 2008

Aku Ada dalam Ada dan Ketiadaan

Aku bukan sipa-siapa
dan....
siapa-siapa bukanlah Aku

Aku adalah Dia..
yang ada dalam cermin..

Tapi bayanganku di cermin..
bukanlah Aku yang sesungguhnya..

Aku ada karena Aku merasa ada..
dan..
Aku ada karena ada yang merasakan...
kehadiranku...

Aku tidak ada..
karena tidak ada yang merasakan..
kehadiranku..

Meski Aku akan tiada...
semoga Aku selalu ada..
menjadi bayangan..
bagi yang ada...
dan..
merasa Aku selalu ada..

Rabu, 26 Maret 2008

Panca Indera Pintu Kehidupan



Mata ini adalah pintu
Dan hati ini adalah Tuan rumah
Dan perasaan adalah sejumlah keluarga
yang bermacam karakter

Telinga ini adalah pintu
yang setiap saat bisa terbuka dan tertutup
menerima dan mendengar setiap kisah hidup
dan sekaligus menutup
untuk setiap lembaran cerita hidup masa lalu

Mulut ini adalah pintu
Siapa yang yang mengunci dan terkunci
tidak akan pernah kita atau dia tahu

Hidung ini adalah pintu
Untuk membuka dan membuang gelisah dan desah
terbuka dan tertutup atas semua galau
yang nampak dan terasa

Kulit ini adalah pintu
Siapapun bisa teraba dan masuk
dan berjiwa di dalamnya
tapi kemudian akan mati dan tertutup
dalam sejatinya jiwa dan raga

Panca indera ini adalah pintu
yang akan menampakan dunia dengan segala sandiwaranya
dan akan usai saat sang pintu waktu tertutup

Apalah artinya tatapan kalau rasa itu selalu tertutup
Apalah artinya bicara kalau asa itu tak pernah terbuka
Apalah artinya mendengar kalau hati itu tidak pernah terbuka
Apalah artinya mencium kalau wangi kasih tersumbat
Apalah artinya membelai kalau ragamu tak pernah berbuat

Janganlah ingkari suara hati dan pikiranmu
Jangan kau kunci raga dan jiwamu
Janganlah menjadi mereka yang "menatap untuk menutup"

I.I. - Cibiru,Maret '08

Senin, 03 Maret 2008

Memahami Sunda Wiwitan-1

Sunda Wiwitan adalah penamaan bagi keyakinan atau sistem keyakinan masyarakat asli Sunda. meski penamaan itu tidak muncul oleh komunitas penganut Sunda Wiwitan, tetapi kemudian istilah itu dilekatkan pada beberapa komunitas dan individu Sunda yang secara kukuh mempertahankan budaya spiritual dan tuntunan ajaran leluhur Sunda. Masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul (Ciptagelar) dan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) di Cigugur Kuningan adalah beberapa komunitas yang masih memegang teguh ajaran-ajaran Sunda Wiwitan ini. Secara administratif untuk membedakan seseorang atau warga komunitas yang memeluk keyakinan Sunda Wiwitan ini, biasanya dalam kolom agama dalam KTP (Kartu Tanpa Penduduk) tidak mencantumkan agama semit atau "impor" atau luar negeri (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dsb). biasanya kolom agama mereka kosongkan atau terdapat tanda (-) atau ada yang ditulis (tulis tangan atau diketik) Sunda Wiwitan saja. Jadi jangan terkecoh oleh mereka atau siapapu yang mengaku Sunda Wiwitan sementara dalam kolom agama dalam KTPnya masih ada ketikan nama agama "luar" (bisa jadi mereka hanya pengakuan saja).
Selanjutnya, kondisi keyakinan Sunda Wiwitan dengan ciri administratif pada KTP itu sama halnya dengan mereka yang mengaku "agama-agama adat" nusantara seperti parmalim, pelebegu, kaharingan, kejawen, aluk ta dolo dsb. Kondisi seperti ini karena negara masih "pilih kasih" dalam perlakuan administratif kenegaraan. padahal sebelum adanya agama-agama "luar", agama Sunda Wiwitan sudah ada. Bahkan Sunda Wiwitan seolah tidak berhak menyandang "gelar" atau titel "agama" karena konsep agama hanya berlaku bagi "agama-agama luar". Sunda Wiwitan sering dikategorikan sebagai kepercayaan atau aliran kepercayaan, bahkan tidak jarang yang menilai sebagai aliran sesat oleh kaum agamawan.
Agama Sunda Wiwitan tidak pernah dan memang tidak melakukan propaganda agama atau syiar atau missionaris, karena memang "bukan agama misi". bahkan sesungguhnya tidak mudah orang mengaku atau memeluk keyakinan Sunda Wiwitan. Karena agama ini hanya khusus bagi mereka yang jelas keturunannya secara genealogis Sunda.
Penganut Sunda Wiwitan tidak memandang jelek kepada agama lain, bahkan tidak merasa sebagai saingan kompetisi penyebaran, karena sebagaimana tadi dikemukakan bahwa agama Sunda Wiwitan tidak diperuntukan bagi mereka selain jelas ada keturunan "darah Sunda". hal ini mengingat dalam ajaran Sunda Wiwitan memahami bahwa setiap umat manusia yang berbangsa-bangsa dan bersukubangsa di muka bumi ini memiliki agama dan kepercayaannya masing-masing. mereka sendiri berpendapat bahwa jangankan kepikiran untuk mengajak orang lain menganut agama seperti mereka, karena mereka sendiri pun sebagai penganut keyakinan Sunda Wiwitan belum tentu sanggup secara sungguh-sungguh menjalankan keyakinan agamanya tersebut.
sebagai agama leluhur, sesungguhnya agama Sunda wiwitan sama saja dengan agama-agama "luar" juga yang merupakan agama leluhur, karena setiap agama di dunia ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka dari itu dalam agama Sunda Wiwitan sangat menekankan untuk selalu menghormat dan mendoakan leluhurnya sebagai cikal bakal adanya generasi Sunda Wiwitan masa sekarang dan ke depan. Selain itu agama Sunda Wiwitan menekankan untuk menjaga ligkungan alam beserta isinya, tidak sembarangan dalam memanfaatkan kekayaan alam baik flora, fauna dan barang-barang fosil. Karena merusak alam adalah juga merusak ajaran Sunda Wiwitan atau melanggar pada ajaran. (jadi jelas kerusakan alam akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh orag-orang penganut Sunda Wiwitan). Tentunya siapa yang menebar angin, maka dialah yang akan menuai badai.

Jumat, 26 Oktober 2007

curhat-3

Bulan Oktober...adalah bulan penuh gejolak dan dinamika..antara cinta sejati yang ditelantarkan..antara cinta suci yang sedang diperjuangkan..antara cinta kemanusiaan yang dijaga dalam bingkai mempertahankan adat budaya bangsa, di tengah perang ideologi, penjajahan budaya dan ideologi keyakinan yang sudah sekian lama mengerak dalam pola pikir nurani bangsa ini. Sehingga tidak bisa lagi membedakan mana perjuangan cara-ciri kebangsaan sebagai kewajiban kodrat dari Tuhan mana politik idoelogi yang terus sedang melanda bangsa ini. Kadang cinta sejati anak manusia harus menjadi korban dari keegoisan dan kefanatikan keyakinan yang hanya tidak dilihat secara makro dan universal. Memang tidak ada kata paksaan dalam perjuanganku ini. Memang tidak ada kata kekerasan dalam perjuangan tegaknya Pncasila di IndonesiaKu. Memang tidak ada kata menyesal dan mengeluh untuk suatu cita-cita nan luhur untuk sejajar di mata bangsa-bangsa dunia. Memang pula tidak ada kata menyerah manakala selalu mendapat halanan dan rintangan baik secara personal mapun komunal. Tapi..ada kalanya sebagai manusia biasa..ada kerinduan akan belaian mesra insan sang dewi pelindung kemurnian hati ini. Ada kalanya lelah untuk sejenak bersandar menunduk dan terpaku dalam dekapan mesra kasih sang buaian kalbu. Ada kalanya rindu akan senandung puisi dan lagu syahdu dari mulut Sang pujangga Cinta. Kadang adakalanya..berat menahan beban yang tidak bisa diukur dengan timbangan duniawi ini. Ini adalah pilihan hidup dan panggilan jiwa..aku harus tetap berjalan..berjalan dan terus berjalan.. menapaki jalan kehidupan yang penuh liku dan jurang dan badai prahara. Aku belajar menjadi seorang berjiwa Ksatria meski mungkin aku bukanlah seorang Kesatria. Aku selalu belajar menjadi seorang pejuang meski mungkin aku hanyalah pecundang atau yang dipecundangi. Aku akan selalu belajar tersenyum dan tabah dalam setiap godaan, cobaan, cercaan, hinaan, fitnahan dan ancaman hidup ini meski aku bukan Sang Gandhi, Madam Theresia, dan orang-orang berjiwa besar lainnya. Hidupku hanya untuk kebaikan. Hidupku hanya untuk kebahagian orang lain. Hidupku hanya untuk berbakti atas kasih Tuhan. selama nafas dan jantung ini menemani aliran darah di nadiku. Selamat tinggal kasih-kasih suci yang pernah kumiliki...biarkan airmata bathin ini menjadi samudera ketabahan sedalam-dalamnya nuraniku dan seluas-luasnya samudra kesabaran jiwaku dalam bumi ragaku yang mungil ini.

Kamis, 13 September 2007

Curhat-2

Suatu hari, saya berkunjung ke ruangan jurusan tetangga, masih pada satu fakultas yang sama. Ada seorang kawan entah kenapa, tiba-tiba bertanya kepada saya ," kapan kawin ?" Saya jawab , "ya mudah-mudahan saja tidak gagal lagi". Sang teman bertanya lagi ," emangnya kenapa? beda agama ya?" . Lalu saya jawab , " seperti biasa..ya". Dia bertanya lagi : "muslim?". "Ya", jawab saya. Makanya udah saja kamu masuk saja menjadi agama saya Islam tetapi ini mah Islamnya Muhammad bukan Islam yang lain-lain." Kemudian dia balik bertanya lagi ,"kamu kan percaya kepada Alloh kan?" percaya kepada Qur'an kan?. Saya jawab ,"bagi saya nabi mana pun dan kitab ajaran agama manapun selama demi jalan kebenaran menuju kebaikan umat manusia..ya saya percayai kebenarnnya." Kemudian sang teman berkata ,"ooo..tidak bisa begitu. Bagi saya Alloh adalah Tuhan saya dan bagi semua umat manusia dan ajaran agama saya adalah paling baik!" Lalu saya bertanya lagi: "kenapa kenyataanya banyak orang beragama seperti kamu, kebanyakannya gak baik, ada yang korupsi, jinah, munafik, membunuh, mencuri dan sebagainya? jawab sang teman : "itulah mereka hanya sekedar ngaku beragama tapi tidak menjalankan ajaran agamanya dan mereka itu terkena pengaruh setan dan iblis." Kemudian dia melanjutnkan pendapatnya ,"sebenarnya kalau berdasarkan ajaran agama saya, kamu itu termasuk temannya setan juga, karena kamu termasuk orang kafir, karena kamu tidak menganut agama Islam seperti saya". Sayatidak kaget, karena demikianlah umumnya arogansi agama mayoritas hee.heetapi kemudian saya menanggapinya , " oo gitu.. jadi saya temannya setan ya?" berarti kalau temannya setan itu tidak akan diganggu setan, artinya kalau saya berbuat kebaikan dan bahkan bertentangan dengan keinginan setan, maka saya mah tidak akan diganggu ..kan teman hee.hee". Saya menangggapi sambil tertawa kecil. kemudian saya berkomentyar lagi :" bagaimana kamu merasa dan berpemikiran bahwa agama kamu yang paling baik, sementara kamu tidak mengetahui, mengenal bahkan tidak memahami agama atau keyakinan orang lain? kan secara logika saja, bahwa kita mengatakan sesuatu itu paling baik jika kita telah membandingkan, mengapresiaisi perbedaan dari yang lain? pernah kah kamu mempelajari Hindu, Budha, Kristen, Konghucu, Sunda Wiwitan dan agama atau keyakinan lainnya?". kemudian sang teman menjawab :" ah tidak perlu begitu, yang penting bagi saya agama saya yang paling baik. dan yang penting saya tidak mengganggu penganut agama lain secara frontal? cuek aja asal dia tidak mengganggu saya, maka saya tidak akan mengganggu dia". Lalu saya menanggapi lagi ,"kalau begitu, kenapa tadi di awal pembicaraan kita kamu mengajak saya untuk masuk agama kamu? dan merasa karena agama kamu paling baik kemudian menyruh saya menganut agama kamu? katanya tidak frontal? apa itu tidak frontal? lagi pula, tidak cukup kita bertolereansi dengan penganut agama lain dengan cuma membiarkan dengan tidak saling ganggu saja, tetapi saya pikir baiknya kita saling berempati, mengenal agama orang lain meski kita tidak harus berubah keyakinan atau tidak mengimani agama orang lain tersebut. Karena dengan demikian maka kita akan menjaga sikap untuk saling pengertian dengan sesama teman yang berbeda agama atau keyakinan." Sang teman berkata ,"ah tidak perlu begitu..gak perlu..yang penting agama saya paling benar, ngapain juga mengenal atau mempelajari agama orang lain yang sudah jelas-jelas salah menurut agama saya?!"..Saya kemudian berkata,"ya suidah kalau begitu..ya silahkan saja pada pilihan kamu..saya hanya ingin kita saling pengertian dengan sesama teman atau orang yang berbeda saja supaya tidak saling menjelekkan..kan tidak baik tuh.." lalu saya pamit menyudahi pembicaraan karena saya akan masuk kelas untuk memeberi perkuliahan Hubungan antar Suku Bangsa. Sambil menepuk pundak dia dan sambil tersenyum, saya mohon pamit kepada Sang teman yang "paling benar itu".

Senin, 27 Agustus 2007

ANGKLUNG BADUY

Atraksi ini adalah salah satu tarian warga masyarakat Kanekes (Baduy) dalam upacara Ngareremokeun atau upacara ritual masyarakat kanekes setelah masa panen. Kebetulan acara ritual ini sedang dilakukan juga dalam rangka prosesi ceremonial ritual Seren taun pada masyarakat Adat karuhun Sunda di Cigugur Kuningan Jawa Barat beberapa tahun lalu. Pada setiap tahunnya mereka (masyarakat Kanekes) selalu ikut serta mengadakan ritual Ngareremokeun ini denga mempergelarkan tradisi seni angklung buhun pada upacara seren taun di Cigugur.

Angklung baduy, demikian seni tradisi masyarakat kanekes yang biasa merupakan bagian ritual ngareremokeun pada kegiatan pasca panen. sangat magis, dan memiliki nuansa spiritual yang agung. bagi mereka angklung adalah sarana budaya dalam berkomunikasi denga alam dengan tujuan untuk memohon kepada yang maha Kuasa agar roh-roh alam bisa menyatu dalam kehidupan manusia tetapi tidak mengganggu kehidupan manusia itu sendiri. rampessss.

Meneliti-Menulis-Meneliti


Aktivitas seperti ini sepertinya sok serius..tapi emang emang serius..sang pengelana sedang menulis apa yang dia lihat pada masyarakat pesisir pantai di daerah bontang Kalimantan Timur. Foto ini diambil tidak sengaja oleh Sita (senior antropologi unpad angkatan 89). sekitar tahun 2003 sang pengelana budaya dengan rekan dari unpad di bawah pimpinan Prof Kusnaka A. mendapatkan project tentang Community Development di sekitaran perusahaan PKT Bontang Kaltim. Itu pengalaman pertama penelitian ke luar Jawa yang sangat mengasikkan.
Meneliti bagaimana dampak sosial budaya atas keberadaan pabrik pupuk PKT Bontang adalah tugas kami waktu itu. seharian kami berkeliling dan bertemu dengan masyarakat sambil mewawancara mereka. meklihat langsung, bertanya, menyimak dan menulis atau merekam apa-apa yang kami dapat adalah makn sehari-hari kami saat itu. sepulangnya dari "lapangan", tugas menulis dan menyusun data adalah pekerjaan yang kami lakukan bersama-sama sambil beristirahat sampai larut malam tiba. saat ada data yang perlu kami perbincangkan, kami meneliti kembali pada esok harinya. meneliti, menulis dan meneliti kembali demikianlah "core work of scientist" khususnya antropolog. tentunya belajar dan belajar dari setiap riset yang dilakukan adalah kewajiban pengelana budaya yang senantiasa akan terus berjalan seiring dengan garis kehidupannya.