
Siapa yang tidak mengenal Dasa Muka dalam kisah pewayangan Ramayana ? Siapa yang tidak benci Dasa Muka dibandingkan terhadap Sri Rama ? Dasa Muka adalah bergelar Prabu dan memiliki nama keren lainnya adalah Rahwana. Jadi meski Dasa Muka banyak dibenci penggemar dunia pewayangan tapi dia adalah Prabu bahkan rohnya dari alam buana ini (rah = roh, wana = hutan = alam = buana).
Secara realita, bilamana kita bercermin maka kita akan melihat satu wajah kita yang berarti satu muka kita. Coba perhatikan dengan seksama muka kita pada cermin di hadapan kita. Pandang, tatap sedalm-dalamnya muka kita. bagaimana raut muka yang nampak ? bagaimana ekspresi wajah kita saat kita menatap ke dalam rongga mata di depan cermin kita ? Atau bayangkan ekspresi muka kita selama satu hari ini. Ada berpa "topeng" muka kita yang menempel dalam lakon sandiwara kehidupan kita ini. dimana dari setiap "topeng" ekspresi muka itu kita berganti-ganti lakon dan itu pun berbeda antara front stage and back stage. Apakah kita menyenangi "topeng-topeng muka kita itu ? Ataukah sebaliknya kita justru membencinya hanya saja tak kuasa mengungkapkannya ? Apakah kita menyadari perubahan muka kita dalam setiap cerita kehidupan ini. bahkan mungkin tidak hanya se-Dasa Muka yang kita miliki tapi "Seribu Muka" yang kita miliki.
Mengapa Seribu Muka itu ada meski kita tidak minta dan tidak berharap sebelumnya ? Itu adalah "muka atau wajah" dari roh-roh kehidupan dari alam ini yang menyatu dan bersama-sama ingin hidup dalam raga yang berwujud manusia. Inilah tugas "Muka Manusia" atau Muka Sri Rama yang sesungguhnya juga telah menyatu dalam diri kita. Hanya saja kita lebih sering munafik dengan selalu berganti "muka" lebih dari Dasa Muka. Sepantasnya kita menjadi Prabu atas Dasa Muka dalam diri kita sendiri. Bukan menjadi penguasa yang muka Dasa atau bahkan lebih. Tapi kita sebagai manusia harus menjadi Manusia yang mampu menjadi "pemimpin" dari muka roh-roh alam yang menyatu dalam wujud kita. Kita harus menjadi Imam bagi mereka dan menyempurnakannya dalam perilaku. Sebab manusia adalah "Wadah Panglokatan" atau penyempurna dari roh-roh hurip tanah pakumpulan baik hewani maupun nabati.